{"id":925,"date":"2010-01-04T22:15:13","date_gmt":"2010-01-04T22:15:13","guid":{"rendered":"http:\/\/berilmu.com\/blog\/?p=925"},"modified":"2023-03-27T08:13:15","modified_gmt":"2023-03-27T01:13:15","slug":"dzat-allah-taala","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/dzat-allah-taala\/","title":{"rendered":"Dzat ALLAH Ta&#8217;ala"},"content":{"rendered":"<p>Ada 2 Pandangan Mengenai Dzat ALLAH SWT :<\/p>\n<ol>\n<li>Larangan dalam memikirkan Dzat ALLAH SWT.<\/li>\n<li>Tidak ada larangan dalam memikirkan Dzat ALLAH SWT.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Pandangan di atas sebenarnya bukan suatu perdebatan, melainkan khasanah untuk menjadi orang yang Berfikir dan Berilmu, carilah dengan Berfikir amalkanlah dengan Berilmu.<\/p>\n<blockquote><p><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>MOHON TULISAN INI JANGAN DIJADIKAN PERANG AQIDAH SEBAGAI AJANG UNTUK MENCARI FIRQAH YANG PALING BAIK DAN BENAR.<\/strong><\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><strong>Ijinkan saya menjelaskan <span style=\"color: #0000ff;\">No.1\u00a0Text <\/span><\/strong><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>biru <\/strong><\/span><strong>dan <span style=\"color: #008000;\">No.2 Text <\/span><\/strong><span style=\"color: #008000;\"><strong>Hijau<\/strong><\/span><!--more--><br \/>\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block; text-align: center;\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-3722339219833725\" data-ad-slot=\"1935354156\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><br \/>\n<strong><span style=\"color: #0000ff;\">Penjelasan No 1 Larangan dalam memikirkan Dzat ALLAH SWT<\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Allah SWT berfirman, yang artinya, &#8220;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): &#8216;Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.'&#8221; (Ali &#8216;Imran: 191).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">&#8220;Katakanlah, &#8216;Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.'&#8221; (Yunus: 101).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">&#8220;Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu Karena mereka akan masuk neraka.&#8221; (Shaad: 27).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, &#8220;Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah.&#8221; (Hasan, Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah [1788]).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid r.a., dari Rasulullah saw., beliau bersabda: &#8220;Tiga jenis orang yang tidak perlu engkau tanyakan lagi nasibnya; orang yang memisahkan diri dari jama&#8217;ah, ia mendurhakai imam dan mati dalam keadaan durhaka. Budak wanita atau pria yang melarikan diri dari tuannya, lalu mati. Dan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya dengan memberi perbekalan yang cukup, lalu sepeninggal suaminya ia bersolek (untuk lelaki lain).&#8221; Tiga jenis orang yang tidak perlu engkau tanyakan lagi nasibnya; Orang yang merampas selendang Allah, sesungguhnya selendang Allah adalah kesombongan-Nya, sarung-Nya adalah kemuliaan. Orang yang ragu tentang Allah. Dan orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah.&#8221; (Shahih, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad [590], Ahmad [IV\/19], Ibnu Hibban [4559], Ibnu Abi &#8216;Ashim dalam as-Sunnah [89], dan al-Bazzar [84]).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, &#8220;Sesungguhnya syaitan mendatangi salah seorang dari kamu, lalu mengatakan, &#8216;Siapakah yang telah menciptakanmu?&#8217; &#8216;Allah!&#8217; jawabnya. Lalu syaitan bertanya lagi: &#8216;Lalu siapakah yang menciptakan Allah?&#8217; Jika kalian menghadapi hal seperti ini, maka hendaklah ia mengucapkan, &#8216;Aku beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya.&#8217; Sesungguhnya, ucapan itu dapat menghilangkan waswas syaitan itu.&#8221; (Shahih, HR Ahmad [VI\/258] dan Ibnu Hibban dalam al-Mawarid [41])<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah saw., beliau bersabda, &#8220;Sesungguhnya syaitan mendatangi salah seorang dari kamu, lalu berkata, &#8216;Siapakah yang telah menciptakan ini? Siapakah yang telah menciptakan itu?&#8217; Hingga syaitan berkata kepadanya: &#8216;Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?&#8217; Jika sudah sampai demikian, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dengan mengucapkan isti&#8217;adzah dan berhenti.&#8221; (HR Bukhari [3276] dan Muslim [134]).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Dari jalur lain diriwayatkan dengan lafazh. &#8220;Hampir tiba masanya orang-orang saling bertanya sesama mereka. Sehingga ada yang bertanya, &#8216;Allah telah menciptakan ini dan itu, lalu siapakah yang menciptakan Allah?&#8217; Jika mereka mengatakan seperti itu, maka bacakanlah, &#8216;Katakanlah: &#8216;Dialah Allah, Yang Mahaesa.&#8217; Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.&#8217; (Al-Ikhlas: 1-4). Kemudian, hendaklah ia meludah ke kiri sebanyak tiga kali, lalu berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan dengan mengucapkan isti&#8217;adzah.&#8221; (HR Abu Dawud [4732], An-Nasa&#8217;i dalam &#8216;Amalul Yaum wal Lailah [460], Abu Awanah [I\/81-82], Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhiid [VII\/146]).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, &#8220;Rasulullah saw. bersabda, &#8216;Allah SWT berfirman, &#8216;Sesungguhnya ummatku akan terus-menerus bertanya apa ini, apa itu?&#8217; Hingga mereka bertanya, &#8216;Allah telah menciptakan ini dan itu lalu siapakah yang menciptakan Allah'&#8221; (HR Muslim [136]).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Dalam riwayat lain ditambahkan, &#8220;Pada saat seperti itu mereka tersesat.&#8221; (Shahih, HR Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah [647]).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Kandungan Bab:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">1.\u00a0\u00a0 Allah SWT. telah menganjurkan dalam Kitab-Nya agar berfikir dan bertadabbur. Anjuran ini ada dua macam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Pertama, anjuran mentadabburi ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan ayat-ayat-Nya yang dapat disimak. Agar seorang hamba dapat memahami maksud Allah swt dan dapat meyakini kehebatan atau Al-Qur&#8217;an sebagai Kalamullah dan mukjizat yang tidak ada kebathilan di dalamnya, dari depan maupun dari belakang. Sebagaimana yang Allah SWT firmankan, &#8220;Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur-an? kalau kiranya al-Qur-an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.&#8221; (An-Nisaa&#8217;: 82).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">&#8220;Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur&#8217;an ataukah hati mereka terkunci?&#8221; (Muhammad: 24).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Kedua, anjuran memikirkan keagungan ciptaan Allah, kerajaan dan kekuasaan-Nya, serta ayat-ayat yang dapat disaksikan, agar seorang hamba dapat merasakan keagungan al-Khaliq, dapat mengakui Al-Qur&#8217;an. Sebagaimana yang Allah SWT. firmankan, &#8220;Katakanlah, &#8216;Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.'&#8221; (Yunus: 101).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">&#8220;Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka, bahwa Al-Qur&#8217;an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.&#8221; (Fushshilat: 53).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">2.\u00a0\u00a0 Memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah swt yang dapat disaksikan dan mentadabburi ayat-ayat Allah yang dapat disimak tidaklah dibatasi dengan keadaan atau waktu tertentu seperti yang dibuat-buat oleh kaum sufi atau ahli kalam, dengan menggunakan istilah renungan pemikiran dan lainnya, dalilnya adalah firman Allah SWT, &#8220;(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), &#8216;Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.&#8221; (Ali &#8216;Imran: 191).<\/span><span style=\"color: #0000ff;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">3.\u00a0\u00a0 Dzat Allah tidak akan bisa terjangkau oleh akal pikiran dan tidak akan bisa dikira-kirakan. Allah SWT. berfirman, &#8220;Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.&#8221; (Thaahaa: 110). Karena Dzat Allah Mahaagung dan Mahatinggi dari kandungan permisalan dan qiyas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">&#8220;Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang penglihatan itu.&#8221; (Al-An&#8217;aam: 103).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Dan bagi al-Khaliq, tidak ada penyerupaan, tandingan dan juga permisalan, &#8220;Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.&#8221; (Al-Ikhlash: 4). Oleh sebab itulah melalui lisan Rasul-Nya, Allah Yang Mahabijaksana melarang berfikir tentang Dzat-Nya Yang Mahasuci.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">4.\u00a0\u00a0 Berfikir tentang Dzat Allah akan menggiring pelakunya kepada keragu-raguan tentang Allah. Dan siapa saja yang ragu tentang Allah, pasti binasa. Sebab ia akan dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan membingungkan yang lahir dari permikiran sesat, &#8220;Allah menciptakan ini dan itu lalu siapakah yang menciptakan Allah?&#8221; Pertanyaan itu pada hakikatnya sangat kontradiktif dan kabur maksudnya. Sebab Allah adalah Pencipta bukan makhluk! Allah SWT berfirman, &#8220;Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan.&#8221; (Al-Ikhlash: 3).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Penyatuan dan perkara yang saling kontradiktif adalah sebuah kekeliruan, bahkan sebuah kemustahilan dan ketidakmungkinan. Karena kesamaran itulah, syaitan menerobos masuk ke dalam hati manusia sehingga mereka ragu tentang Allah. Pertanyaan itu pada hakikatnya menyamakan Allah (ak-Khaliq) dengan makhluk. Tanpa ragu lagi. Makhluk pasti ada yang menciptakannya. Akan tetapi pertanyaan tidak berhenti sampai di situ, bahkan dilanjutkan dengan pertanyaan tentang siapa yang menciptakan Pencipta. Maka, jatuhlah ia dalam penyerupaan al-Khaliq dengan makhluk, wal &#8216;iyaadzubillaah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">5.\u00a0\u00a0 Pengobatan untuk waswas Iblis dan pemikiran-pemikiran syaitan ini, yaitu mengikuti tata cara Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang dijelaskan oleh Rasulullah saw.:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">1.\u00a0\u00a0 Membaca surat Al-Ikhlas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">2.\u00a0\u00a0 Meludah ke kiri sebanyak tiga kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">3.\u00a0\u00a0 Berlindung kepada Allah swt dari gangguan syaitan yang terkutuk dengan membaca isti&#8217;adzah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">4.\u00a0\u00a0 Mengatakan, &#8220;Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">5.\u00a0\u00a0 Memutus waswas dan menghentikan keraguannya.<\/span><span style=\"color: #0000ff;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">6.\u00a0\u00a0 Bimbingan Nabawi tadi merupakan cara yang paling mujarab untuk mengobati penyakit waswas dan lebih ampuh untuk memutusnya daripada cara jidal (perdebatan) logika yang sempit yang pada umumnya malah membuat orang bingung. Hendaklah orang yang waras akalnya memperhatikan benar sabda Nabi, &#8220;Sesungguhnya hal itu dapat menghilangkannya.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Jadi, siapa saja yang melakukannya semata-mata ikhlas karena Allah dan ketaatan kepada Rasul-Nya, maka syaitan pasti lari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">7.\u00a0\u00a0 Kaum Salafush Shalih menerapkan metodologi Al-Qur&#8217;an dalam memutus waswas ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Diriwayatkan dari Abu Zumail, ia berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Ibnu Abbas r.a., kukatakan padanya, &#8216;Ada suatu perkara yang terlintas dalam hatiku.'&#8221; &#8220;Apa itu?&#8221; tanya beliau. &#8220;Demi Allah, aku tidak ingin membicarakannya!&#8221; jawabku pula. Beliau berkata, &#8220;Adakah itu sesuatu yang membuatmu ragu?&#8221; Beliau tersenyum, lalu berkata, &#8220;Tidak ada seorang pun yang terhindar dari hal itu. Namun Allah SWT telah menurunkan firman-Nya, &#8220;Maka, jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca al-Kitab sebelum kamu.&#8221; (Yunus: 94) Lalu ia berkata kepadaku, &#8220;Jika engkau merasakan sesuatu yang meragukan di dalam hati, maka katakanlah, &#8216;Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu.'&#8221; (Al-Hadiid: 3). (Shahih, HR Abu Daud [5110]).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #0000ff;\">Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin &#8216;Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar&#8217;iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi&#8217;i, 2006), hlm. 91-98.<\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #008000;\">Penjelasan No 2 Tidak ada larangan dalam memikirkan Dzat ALLAH SWT<\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Adanya banyak pemahaman apakah Dzat Allah itu ada, bagaimana wujud-Nya, bagaimana kuasa -Nya dll yang berbeda beda membuat perdebatan tersendiri tentang Tuhan. Sebagai landasan berpikirnya akal kita juga harus berpedoman terhadap kaidah kaidah pokok dalam berakidah. Menurut\u00a0 Syeik Ali Ath Thanthawi dalam kitabnya yang berjudul &#8221; Ta&#8217;riif\u00a0 &#8216;Aam bi Diinil Islam&#8221; disebutkan bahwa kaidah kaidah pokok dalam berakidah adalah sbb :<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">1.. Sesuatu yang dapat ditangkap dengan inderaku, maka tidak diragukan lagi bahwa ia itu ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">&#8212; &gt; Inilah akal manusia, tetapi berdasarkan pengalamannya fatamorgana yang terjadi di padang pasir sangat mengecoh pengetahuannya tentang adanya sekumpulan air. Pena yang lurus jika diletakkan di dalam gelas akan tampak bengkok. Penglihatan mata tidak mungkin terjadi jika tidak ada cahaya, sementara cahaya tidak berguna untuk seorang yang buta. Jadi disimpulkan, penglihatan fisik sangatlah lemah dan dapat menipu.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">2.. Ada beberapa hal yang\u00a0 belum pernah kita lihat dan kita rasakan, namun kita meyakini keberadaannya, seperti halnya yang telah kita rasakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">&#8212;&gt; Dicontohkan, kita percaya India atau Brasilia itu ada, padahal kita belum pernah kesana. Demikian halnya, kita percaya bahwa Iskandar al Maqduni telah berhasil membuka negeri Persia. Kita percaya bahwa Walid bin Abdul Malik telah membangun Masjid Jami&#8217; Umawy, padahal kita bukanlah termasuk orang yang ikut perang dan menyaksikan pembangunan masjid tersebut. Lantas kenapa kita meyakini atas peristiwa itu ? Jadi keyakinan disamping diperoleh melalui indera juga melalui berita berita yang disampaikan oleh orang yang shidiq (jujur) sehingga ucapan dan perkataannya dapat dipercaya oleh orang lain.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">3.. Sejauh manakah pengetahuan yang dapat diperoleh indera kita ? Apakah indera kita dapat mengetahui semuanya yang maujud&#8230;?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">&#8212;&gt; Perumpaannya adalah seperti seorang yang dipenjara oleh seorang raja di dalam sebuah ruangan dengan pintu dan jendela yang tertutup, serta beberapa celah dinding penjara. Satu celah menghadap ke arah sungai yang mengalir ke sebelah timur, satu celah menghadap ke arah gunung sebelah barat, satu celah menghadap istana di sebelah utara dan celah yang lain menghadap lapangan di sebelah selatan.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Dalam perumpamaan ini pengetahuan si terpenjara yang dimiliki sebatas celah celah yang ada di dinding\u00a0 penjara. Seorang yang dipenjara itu tidak akan dapat melihat secara keseluruhan sungai di sebelah timur hanya dari balik celah penjara. Nah, demikian pula indera kita bagaimana mungkin kita bisa melihat semua yang berwujud, sementara indera kita sangat terbatas.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Demikianlah kaidah kaidah pokok dalam berakidah. Sejarah membuktikan, bagaimana seorang tokoh komunis seperti Stalin meminta didoakan untuk kesembuhan penyakit yang dideritanya. Demikian juga DN Aidit &#8211; tokoh PKI, bagaimana ia mengatakan saat ditanya apakah ia percaya akan Tuhan..? Ia menjawab &#8221; hanya Tuhanlah yang tahu, apakah saya percaya Tuhan atau tidak&#8221;. Dari jawaban DN Aidit dapat disimpulkan sebenarnya ia sendiri percaya kepada Tuhan.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah berdebat dengan seorang yang atheis, dia menanyakan &#8221; Apakah anda percaya bila saya katakan ada sebuah kapal dengan muatan yang penuh di tengah tengah ombak besar lautan ia tetap bisa berlayar dengan baik meskipun tanpa nahkoda ? Orang atheis itu pun menjawab &#8221; Tentu tidak percaya&#8221;. Nah, begitu pula dengan alam semesta ini, bagaimana mungkin alam semesta ini yang sangat luas dapat berjalan sangat teratur dengan sendirinya ? tentulah ada yang menciptakannya, kata Imam Abu Hanifah.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Di waktu lain Syeikh Abu Hammad diundang oleh orang orang atheis yang ingin berdebat dengannya periha &#8220;Dzat Allah&#8221;. Karena sesuatu hal Syeikh Abu Hammad memerintahkan mruidnya, Imam Abu Hanifah untuk memenuhi undangan kelompok orang atheis tersebut. Percakapan pun dimulai.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;Tahun berapa tuhan engkau diciptakan ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Tuhan tidak dilahirkan, kalau tuhan dilahirkan tentunya dia punya ayah dan ibu, lam yalid wa lam yuulad&#8221;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;Tahun berapakah tuhan muncul ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Tuhan ada sebelum adanya waktu dan penanggalan, Tuhan lah yang menciptakan waktu&#8221;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;Kami minta contoh kongkrit&#8221;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum empat ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8221; Tiga&#8221;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum tiga ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8221; Dua&#8221;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum dua ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8221; Satu&#8221;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum satu ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8221; Tidak ada &#8220;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah: Jika dalam ilmu hitung saja tidak ada sebelum satu, bagaimana dengan satu hakiki adanya tuhan ? Sesungguhnya Dia lah yang permulaan dan yang akhir&#8221;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;Kemanakah arah Tuhan menghadap?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah:&#8221; Jika kita menghadapkan sebua lampu di dalam kegelapan, maka ke arah manakah cahaya lampu itu?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8221; Ke semua arah &#8220;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Begitulah , juka cahaya yang dibuat oleh manusia saja seperti itu bagaimana dengan cahaya langit dan bumi?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8221; Bagaimana bentuk Dzat Tuhan, apakah dia seperti air, besi atau seperti asap ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8220;Pernahkah anda melihat orang sakratul maut dan meninggal ? apakah yang terjadi ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;Keluarnya ruh dari jasad &#8220;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Bagaimana bentuk ruh ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;Kami tidak tahu&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Bagaimana kita bisa menjelaskan ruh Dzat Tuhan, sementara ruh ciptaan -Nya saja anda tidak tahu&#8221;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;Lantas di tempat manakah tuhan berada ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8220;Kalau kita menyuguhkan susu segar, maka di dalam susu itu adakah minyak samin ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;ya.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Dimanakah letak minyak samin ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;Minyak samin itu bercampur menyebar di dalam kandungan susu&#8221;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Bagaimana aku harus menujukkan dimana Allah berada, kalau minyak samin yang ciptaan manusia saja tidak dapat anda lihat dalam kandungan susu itu ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8220;Jika semua yang ada dunia ini sudah ditakdirkan, lalu apa yang dikerjakan Tuhan sekarang ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Menunjukkan apa yang telah diciptakan -Nya, meninggikan derajat sebagian manusia dan merendahkan sebagian manusia lainnya.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8221; Jika waktu permulaan masuknya manusia ke surga ada, mengapa tidak ada akhir waktunya &#8220;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Bukankah ilmu hitung yang kita kenal ada awalan, namun tidak ada akhirannya ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8221; Jika di surga diceritakan ada selalu ada makan &#8211; seperti di dunia sekarang ini,\u00a0 kenapa tidak ada buang air besar atau buang air kecil ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8220;Bukankah selama 9 bulan di kandungan janin selalu makan melalui darah ibu, dan tidak buang air besar atau air kecil ?<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Orang Atheis : &#8221; Bagaimana mungkin kenikmatan makanan di surga tidak akan habis selamanya ?&#8221; padahal terus menerus dimakan &#8220;.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Imam Abu Hanifah : &#8221; Bukankah kalau ilmu yang diamalkan tidak membuat kita bodoh, justeru membuat kita lebih pintar ?&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Di waktu yang lain Imam Abu Hanifah diundang oleh kelompok atheis yang lain untuk membicarakan masalah Dzat Tuhan. Janji yang disampaikan Imam Abu Hanifah adalah sebelum tengah hari, namun matahari sudah condong ke barat Imam Abu Hanifah belum juga datang. Dengan wajah yang agak marah kelompok atheis itu membanggakan diri, kalau sang ulama itu tidak sanggup berdebat dengan dirinya karena tidak memounyai dalil dalil yang cukup kuat untuk membuktikan kebenaran adanya Tuhan. Hari menjelang sore, sang ulama pun belum juga muncul. Akhirnya\u00a0 kelompok atheis ini ingin membubarkan diri. Di saat itulah Imam Abu Hanifah muncul. Dengan marah kelompok atheis itu bertanya, kenapa janjinya molor. Imam Abu Hanifah pun meminta maaf, dan bercerita. &#8221; Tadi saya sebelum siang sudah berangkat dari rumah, namun pada saat saya akan melalui sungai, saya tidak menemukan satu orang pun Tukang Perahu. Kemudian saya tunggu sampai siang, namun belum juga datang si tukang perahu yang akan menyeberangkan saya ke desa ini. Tapi tiba tiba ada beberapa potong kayu yang hanyut di hadapan saya kemudian dengan sendirinya dia merakit sendiri satu per satu potongan kayu tersebut menjadi perahu yang sangat bagus. Akhirnya saya menaiki perahu tersebut dan sampailah saya menyeberangi sungai yang membatasi desa ini.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Atas cerita Imam Abu Hanifah tersebut, orang orang atheis itu serentak mengatakan &#8221; Kamu pembohong !&#8221; mana mungkin potongan kayu itu dapat dengan sendirinya menjadi perahu yang bagus tanpa ada yang membuatnya &#8220;. Imam Abu Hanifah pun menjawab, &#8221; demikian juga dengan alam semesta yang luas dan teratur ini, mana mungkin tercipta dengan sendirinya, pastilah ada yang membuatnya, Dia lah Allah swt. !&#8221;<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Ada juga dalil dalil akal yang lain seperti Imam Syafi&#8217;i ketika ditanya tentang Tuhan, dia berkata &#8221; Dalil ku adalah daun kertau, karena meski daun itu punya rasa, bentuk, warna dan kndungan zat yang sama, tetapi kalau ia dimakan oleh ulat sutera ia dapat menghasilkan kain sutera, jika ia dimakn oleh lebah maka ia akan menghasilkan madu, jika ia dimakan oleh domba maka ia akan menghasilkan bulu, daging dan susu domba, jika ia dimakan oleh rusa maka ia dapat menggemukkannya dan membuat bau wangi di tanduknya. Akhirnya siapakah yang mengatur itu semua padahal satu sumber makanan yang berbeda, tetapi dapat menghasilkan bermacam macam zat yang berbeda beda ?&#8221; jawabannya adalah Allah swt, Sang Pencipta alam semesta.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Itulah pembuktian akal atas Dzat Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Pencipta. Sesungguhnya akal kita diciptakan dalam keterbatasan, namun demikianlah Allah memerintahkan kita untuk selalu berpikir atas segala sesuatu yang telah diciptakan Nya.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur&#8217;an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.(QS.59.21)<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Alangkah celakanya kita, kalau semua tanda tanda kekuasaan Allah swt yang terlihat dan terasa oleh kita saja tidak dapat menumbuhkan suatu bentuk keimanan dalam diri kita. Perasaan iman adalah fitrah yang tidak mungkin dibohongi oleh semua makhluk Tuhan, mungkin secara lisan dia tidak mengakuinya, tetapi hakikat iman pastilah ada di dalam ruhnya masing-masing.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.(QS.22.73)<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Bagaimana mungkin manusia yang sombong dapat melakukan atau menciptakan sebuah atau sesuatu barang satu saja persis seperti yang Allah ciptakan ? Tidaklah mungkin. Teknologi manapun tidak akan pernah membuat atau menciptakan persis dengan yang Allah ciptakan.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Dan apabila ada orang yang kufur (tertutupi) atas kekuasaan Allah swt, maka semata mata karena mereka tidak mengerti, yang pada akhirnya ketidakmengertiannya akan menutupi mata hatinya sendiri, padahal hati mereka yang sebenar benarnya mengakui atas Dzat Allah swt Sang Pencipta.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Akhirul kalam, tidakkah kita malu kepada Sang Pencipta padahal kita tahu bahwa kita ada yang menciptakan. Masih pantaskah kita menyombongkan diri di hadapan Dzat Yang Maha Besar? Tidaklah setiap orang menciptakan dirinya sendiri, sehingga ia dapat menyombongkan diri.<\/span><span style=\"color: #008000;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?(QS.52.35)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #008000;\">&#8220;Sesuatu yang tidak ada, tidak mungkin menciptakan sesuatu yang ada &#8221;\u00a0<\/span><\/p>\n<h2>Semoga menjadi pelajaran untuk kita di dalam mencari kebenaran suatu jawaban, jgn takut salah karena bila kita salah kita bisa perbaiki bersama2.<br \/>\nJangan merasa benar karena kebenaran milik ALLAH SWT.<br \/>\nAllahuma ini as aluka bismika Ya ALLAH , Ya RAHMAN, Ya RAHIM, Ya KARIM, Ya MUQIM, Ya HAKIM.<\/h2>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada 2 Pandangan Mengenai Dzat ALLAH SWT : Larangan dalam memikirkan Dzat ALLAH SWT. Tidak ada larangan dalam memikirkan Dzat ALLAH SWT. Pandangan di atas sebenarnya bukan suatu perdebatan, melainkan khasanah untuk menjadi orang yang Berfikir dan Berilmu, carilah dengan Berfikir amalkanlah dengan Berilmu. MOHON TULISAN INI JANGAN DIJADIKAN PERANG AQIDAH SEBAGAI AJANG UNTUK MENCARI &hellip; <\/p>\n<p><a class=\"more-link btn\" href=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/dzat-allah-taala\/\">Continue reading<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[567,568],"class_list":["post-925","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-akhirat","tag-dzat-allah","tag-pengertian-dzat-allah","item-wrap"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/925","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=925"}],"version-history":[{"count":11,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/925\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3798,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/925\/revisions\/3798"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=925"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=925"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=925"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}