{"id":638,"date":"2004-04-12T05:55:28","date_gmt":"2004-04-12T05:55:28","guid":{"rendered":"http:\/\/berilmu.com\/blog\/?p=638"},"modified":"2023-03-27T07:55:49","modified_gmt":"2023-03-27T00:55:49","slug":"berhujjah-dengan-hadits-dlaif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/berhujjah-dengan-hadits-dlaif\/","title":{"rendered":"Berhujjah Dengan Hadits Dla&#8217;if"},"content":{"rendered":"<p>Salah satu fenomena yang marak dilakukan adalah pengamalan hadits Dla\u2019if secara serampangan tanpa pilah dan pilih terlebih dahulu, padahal implikasinya amat berbahaya sekali.<br \/>\nOleh karena itu, perlu kiranya diketahui kapan berhujjah dan mengamalkan hadits Dla\u2019if itu dibenarkan dan apa pula persyaratannya?.<br \/>\nUntuk itu, disini kita akan membahas sedikit tentang hukum berhujjah dengannya dan persyaratannya.<br \/>\n<!--more--><br \/>\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block; text-align: center;\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-3722339219833725\" data-ad-slot=\"1935354156\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/p>\n<p align=\"justify\"><strong>Berhujjah dengan hadits Dla\u2019if dan mengamalkannya perlu ada perinciannya:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Pengamalannya di dalam masalah-masalah \u2018aqidah tidak boleh secara ijma\u2019.<\/li>\n<li>Pengamalannya di dalam masalah-masalah hukum (al-Ahk\u00e2m) tidak diperbolehkan juga menurut mayoritas Ulama.<\/li>\n<li>Sedangkan pengamalannya di dalam Fadl\u00e2`il al-A\u2019m\u00e2l (amalan-amalan yang memiliki keutamaan), Tafsir, al-Magh\u00e2ziy (berita-berita seputar peperangan-peperangan) dan Sirah, mayoritas para ulama membolehkannya dengan syarat-syarat sebagai berikut:<br \/>\n&#8211; Hadits yang dijadikan hujjah\/diamalkan tersebut tidak Dla\u2019if (Lemah) sekali.<br \/>\n&#8211; Permasalahan yang dibicarakan di dalam hadits yang Dla\u2019if tersebut masih berada di dalam kawasan prinsip dasar umum. Alias bukan terpisah dan sudah menjadi cabang tersendiri.<br \/>\n&#8211; Ketika mengamalkan hadits Dla\u2019if tersebut, tidak meyakini kevalidannya (bahwa ia adalah hadits yang shahih) bahkan harus meyakininya sebagai sikap preventif.<\/li>\n<\/ul>\n<p align=\"justify\">Imam an-Nawawy telah menukil ijma\u2019 para ulama mengenai hukum mengamalkan hadits Dla\u2019if dalam masalah Fadl\u00e2`il al-A\u2019m\u00e2l padahal sebenarnya ada banyak ulama terkenal yang tidak sependapat dengan hal itu, diantaranya Abu H\u00e2tim, Abu Zur\u2019ah, Ibn al-\u2018Araby, asy-Syawkany dan ulama kontemporer, Syaikh al-Albany. Demikian pula pendapat yang tersirat dari ucapan Syaikhul Islam, Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim serta petunjuk yang didapat di dalam dua kitab Shahih; Shah\u00eeh al-Bukhary dan Shah\u00eeh Muslim.<\/p>\n<p>Maka berdasarkan hal ini, hadits Dla\u2019if tidak boleh diamalkan secara mutlak dalam bab apapun di dalam dien ini, dan ketika diucapkan\/dibicarakan semata hal itu untuk sekedar pendekatan (bersifat preventif).<\/p>\n<p>Ibn al-Qayyim mengisyaratkan dimungkinkannya untuk menggunakan Hadits Dla\u2019if tersebut ketika dalam kondisi akan menguatkan dua diantara ucapan yang seimbang. Namun pendapat yang tepat adalah bahwa hadits Dla\u2019if tidak boleh diamalkan secara mutlak selama dugaan terhadap validitasnya masih lemah dan selama ia tidak mencapai derajat Hasan Li Ghairihi (Menjadi Hasan karena ada penguat\/pendukungnya dari sisi sanad dan matan yang lain).<\/p>\n<p><em>(Disarikan dari Jawaban Syaikh DR.\u2019Abdul Karim bin \u2018Abdullah al-Khudlair [Dosen pada Fakultas Ushuluddin di J\u00e2mi\u2019ah al-Imam Muhammad bin Su\u2019\u00fbd], Majallah \u2018ad-Da\u2019wah\u2019, Vol.1890, Tgl. 29-02-1424 H ).\u00a0<\/em><\/p>\n<p><strong>CATATAN:\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Ada ulama yang menambahkan satu syarat lagi, yaitu, ketika berhujjah dengan hadits Dla\u2019if dan menyampaikannya di dalam suatu majlis, maka harus disebutkan ke-dla\u2019if-an haditst tersebut. Wallahu a\u2019lam.<\/p>\n<hr \/>\n<p><script type=\"text\/javascript\">\/\/ < ![CDATA[ google_ad_client = \"ca-pub-3290249765240979\"; \/* Kotak besar *\/ google_ad_slot = \"0967429206\"; google_ad_width = 336; google_ad_height = 280; \/\/ ]]><\/script><script type=\"text\/javascript\" src=\"http:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/show_ads.js\">\/\/ < ![CDATA[ \/\/ ]]><\/script><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu fenomena yang marak dilakukan adalah pengamalan hadits Dla\u2019if secara serampangan tanpa pilah dan pilih terlebih dahulu, padahal implikasinya amat berbahaya sekali. Oleh karena itu, perlu kiranya diketahui kapan berhujjah dan mengamalkan hadits Dla\u2019if itu dibenarkan dan apa pula persyaratannya?. Untuk itu, disini kita akan membahas sedikit tentang hukum berhujjah dengannya dan persyaratannya.<\/p><p><a class=\"more-link btn\" href=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/berhujjah-dengan-hadits-dlaif\/\">Continue reading<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[581],"class_list":["post-638","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-akhirat","tag-berhujjah-dengan-hadits-dlaif","item-wrap"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/638","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=638"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/638\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3769,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/638\/revisions\/3769"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=638"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=638"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=638"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}