{"id":578,"date":"2011-08-31T22:19:33","date_gmt":"2011-08-31T22:19:33","guid":{"rendered":"http:\/\/berilmu.com\/blog\/?p=578"},"modified":"2023-03-27T08:28:46","modified_gmt":"2023-03-27T01:28:46","slug":"sejarah-tafsir-dan-perkembangannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/sejarah-tafsir-dan-perkembangannya\/","title":{"rendered":"SEJARAH TAFSIR DAN PERKEMBANGANNYA"},"content":{"rendered":"<p>Secara etimologi tafsir bisa berarti:\u00a0\u0627\u0644\u0627\u064a\u0636\u0627\u062d \u0648\u0627\u0644\u0628\u064a\u0627\u0646\u00a0(penjelasan),\u00a0\u0627\u0644\u0643\u0634\u0641\u00a0(pengungkapan) dan\u00a0\u0643\u0634\u0641 \u0627\u0644\u0645\u0631\u0627\u062f \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0644\u0641\u0638 \u0627\u0644\u0645\u0634\u0643\u0644\u00a0(menjabarkan kata yang samar ).<\/p>\n<p>1.\u00a0Adapun secara terminologi tafsir adalah penjelasan terhadap\u00a0<em>Kalamullah\u00a0<\/em>atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur\u2019an dan pemahamannya.<\/p>\n<p>2.\u00a0Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, karena pembahasannya berkaitan dengan\u00a0<em>Kalamullah\u00a0<\/em>yang merupakan petunjuk dan pembeda dari yang haq dan bathil. Ilmu tafsir telah dikenal sejak zaman Rasulullah dan berkembang hingga di zaman modern sekarang ini. Adapun perkembangan ilmu tafsir dibagi menjadi empat periode yaitu : <!--more--><\/p>\n<p><script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block; text-align: center;\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-3722339219833725\" data-ad-slot=\"1935354156\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><br \/>\n<strong>Pertama, Tafsir Pada Zaman Nabi.<\/strong><\/p>\n<p>Al-Qur\u2019an diturunkan dengan bahasa Arab sehingga mayoritas orang Arab mengerti makna dari ayat-ayat al-Qur\u2019an. Sehingga banyak diantara mereka yang masuk Islam setelah mendengar bacaan al-Qur\u2019an dan mengetahui kebenarannya. Akan tetapi tidak semua sahabat mengetahui makna yang terkandung dalam al-Qur\u2019an, antara satu dengan yang lainnya sangat variatif dalam memahami isi dan kandungan al-Qur\u2019an. Sebagai orang yang paling mengetahui makna al-Qur\u2019an, Rasulullah selalu memberikan penjelasan kepada sahabatnya, sebagaimana firman Allah ,\u201d\u00a0<em>keterangan-keterangan (mu\u2019jizat) dan kitab-kitab.Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur\u2019an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan, (QS. 16:44).\u00a0<\/em>Contohnya hadits yang diriwayatkan Muslim dari Uqbah bin \u2018Amir berkata : \u201cSaya mendengar Rasulullah berkhutbah diatas mimbar membaca firman Allah :<\/p>\n<p><strong>\u0648\u0623\u0639\u062f\u0648\u0627 \u0644\u0647\u0645 \u0645\u0627 \u0627\u0633\u062a\u0637\u0639\u062a\u0645 \u0645\u0646 \u0642\u0648\u0629<\/strong><\/p>\n<p>kemudian Rasulullah bersabda :<\/p>\n<p><strong>\u0623\u0644\u0627 \u0625\u0646 \u0627\u0644\u0642\u0648\u0629 \u0627\u0644\u0631\u0645\u064a<\/strong><\/p>\n<p>\u201c<em>Ketahuilah bahwa kekuatan itu pada memanah<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Juga hadits Anas yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim Rasulullah bersabda tentang\u00a0<em>Al-Kautsar\u00a0<\/em>adalah sungai yang Allah janjikan kepadaku (nanti) di surga.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tafsir Pada Zaman Shohabat<\/strong><\/p>\n<p>Adapun metode sahabat dalam menafsirkan al-Qur\u2019an adalah; Menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan Al-Qur\u2019an, menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan sunnah Rasulullah, atau dengan kemampuan bahasa, adat apa yang mereka dengar dari Ahli kitab (Yahudi dan Nasroni) yang masuk Islam dan telah bagus keislamannya.<\/p>\n<p>Diantara tokoh mufassir pada masa ini adalah: Khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali), Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas\u2019ud, Ubay bin Ka\u2019ab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair dan Aisyah. Namun yang paling banyak menafsirkan dari mereka adalah Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Mas\u2019ud dan Abdullah bin Abbas yang mendapatkan do\u2019a dari Rasulullah.<\/p>\n<p>Penafsiran shahabat yang didapatkan dari Rasulullah kedudukannya sama dengan hadist\u00a0<em>marfu\u2019.\u00a0<\/em><em>3<\/em><em>\u00a0<\/em>Atau paling kurang adalah\u00a0<em>Mauquf.\u00a0<\/em><em>4<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tafsir Pada Zaman Tabi\u2019in<\/strong><\/p>\n<p>Metode penafsiran yang digunakan pada masa ini tidak jauh berbeda dengan masa sahabat, karena para tabi\u2019in mengambil tafsir dari mereka. Dalam periode ini muncul beberapa madrasah untuk kajian ilmu tafsir diantaranya:<\/p>\n<p>1)- Madrasah Makkah atau Madrasah Ibnu Abbas yang melahirkan mufassir terkenal seperti Mujahid bin Jubair, Said bin Jubair, Ikrimah Maula ibnu Abbas, Towus Al-Yamany dan \u2018Atho\u2019 bin Abi Robah.<\/p>\n<p>2)- Madrasah Madinah atau Madrasah Ubay bin Ka\u2019ab, yang menghasilkan pakar tafsir seperti Zaid bin Aslam, Abul \u2018Aliyah dan Muhammad bin Ka\u2019ab Al-Qurodli. Dan 3)- Madrasah Iraq atau Madrasah Ibnu Mas\u2019ud, diantara murid-muridnya yang terkenal adalah Al-Qomah bin Qois, Hasan Al-Basry dan Qotadah bin Di\u2019amah As-Sadusy.<\/p>\n<p>Tafsir yang disepakati oleh para tabiin bisa menjadi hujjah, sebaliknya bila terjadi perbedaan diantara mereka maka satu pendapat tidak bisa dijadikan dalil atas pendapat yang lainnya.\u00a05<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tafsir Pada Masa Pembukuan<\/strong><\/p>\n<p>Pembukuan tafsir dilakukan dalam lima periode yaitu;<\/p>\n<p>Periode Pertama, pada zaman Bani Muawiyyah dan permulaan zaman Abbasiyah yang masih memasukkan ke dalam sub bagian dari hadits yang telah dibukukan sebelumnya.\u00a0<em>Periode Kedua,<\/em>Pemisahan tafsir dari hadits dan dibukukan secara terpisah menjadi satu buku tersendiri. Dengan meletakkan setiap penafsiran ayat dibawah ayat tersebut, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Jarir At-Thobary, Abu Bakar An-Naisabury, Ibnu Abi Hatim dan Hakim dalam tafsirannya, dengan mencantumkan sanad masing-masing penafsiran sampai ke Rasulullah, sahabat dan para tabi\u2019in.<em>Periode Ketiga,\u00a0<\/em>Membukukan tafsir dengan meringkas sanadnya dan menukil pendapat para ulama\u2019 tanpa menyebutkan orangnya. Hal ini menyulitkan dalam membedakan antara sanad yang shahih dan yang dhaif yang menyebabkan para mufassir berikutnya mengambil tafsir ini tanpa melihat kebenaran atau kesalahan dari tafsir tersebut. Sampai terjadi ketika mentafsirkan ayat<\/p>\n<p><strong>\u063a\u064a\u0631 \u0627\u0644\u0645\u063a\u0636\u0648\u0628 \u0639\u0644\u064a\u0647\u0645 \u0648\u0644\u0627\u0627\u0644\u0636\u0627\u0644\u064a\u0646<\/strong><\/p>\n<p>ada sepuluh pendapat, padahal para ulama\u2019 tafsir sepakat bahwa maksud dari ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi dan Nasroni.\u00a0<em>Periode Keempat,\u00a0<\/em>pembukuan tafsir banyak diwarnai dengan buku \u2013 buku tarjamahan dari luar Islam. Sehingga metode penafsiran\u00a0<em>bil aqly<\/em>\u00a0(dengan akal) lebih dominan dibandingkan dengan metode\u00a0<em>bin naqly<\/em>\u00a0( dengan periwayatan). Pada periode ini juga terjadi spesialisasi tafsir menurut bidang keilmuan para mufassir. Pakar fiqih menafsirkan ayat Al-Qur\u2019an dari segi hukum seperti Alqurtuby. Pakar sejarah melihatnya dari sudut sejarah seperti ats-Tsa\u2019laby dan Al-Khozin dan seterusnya.\u00a0<em>Periode Kelima, tafsir maudhu\u2019i\u00a0<\/em>yaitu membukukan tafsir menurut suatu pembahasan tertentu sesuai disiplin bidang keilmuan seperti yang ditulis oleh Ibnu Qoyyim dalam bukunya At-Tibyan fi Aqsamil Al-Qur\u2019an, Abu Ja\u2019far An-Nukhas dengan Nasih wal Mansukh, Al-Wahidi Dengan Asbabun Nuzul dan Al-Jassos dengan Ahkamul Qur\u2019annya.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Metode Penafsiran<\/strong><\/p>\n<p>Metode penafsiran yang banyak dilakukan oleh para mufassir adalah:<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><em>Pertama,\u00a0<\/em>Tafsir Bil Ma\u2019tsur atau Bir-Riwayah<\/strong><\/p>\n<p>Metode penafsirannya terfokus pada\u00a0<em>shohihul manqul<\/em>\u00a0(riwayat yang shohih) dengan menggunakan penafsiran al-Qur\u2019an dengan al-Qur\u2019an, penafsiran al-Qur\u2019an dengan sunnah, penafsiran al-Qur\u2019an dengan perkataan para sahabat dan penafsiran al-Qur\u2019an dengan perkataan para tabi\u2019in. Yang mana sangat teliti dalam menafsirkan ayat sesuai dengan riwayat yang ada. Dan penafsiran seperi inilah yang sangat ideal yang patut dikembangkan. Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah :<\/p>\n<ol>\n<li>Tafsir At-Tobary ((<strong>\u062c\u0627\u0645\u0639 \u0627\u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0641\u064a \u062a\u0623\u0648\u064a\u0644 \u0623\u0649 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646<\/strong>\u00a0terbit 12 jilid<\/li>\n<li>Tafsir Ibnu Katsir (<strong>\u062a\u0641\u0633\u064a\u0631 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646 \u0627\u0644\u0639\u0638\u064a\u0645<\/strong>\u00a0) dengan 4 jilid<\/li>\n<li>Tafsir Al-Baghowy (<strong>\u0645\u0639\u0627\u0644\u0645 \u0627\u0644\u062a\u0646\u0632\u064a\u0644<\/strong>\u00a0)<\/li>\n<li>Tafsir Imam As-Suyuty (<strong>\u0627\u0644\u062f\u0631 \u0627\u0644\u0645\u0646\u062b\u0648\u0631 \u0641\u064a \u0627\u0644\u062a\u0641\u0633\u064a\u0631 \u0628\u0627\u0644\u0645\u0623\u062b\u0648\u0631<\/strong>\u00a0) terbit 6 jilid.<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><em>Kedua,\u00a0<\/em>Tafsir Bir-Ra\u2019yi (Diroyah).<\/strong><\/p>\n<p>Metode ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu:<\/p>\n<p><strong><em>Ar-Ro\u2019yu al Mahmudah<\/em><\/strong>\u00a0(penafsiran dengan akal yang diperbolehkan) dengan beberapa syarat diantaranya:<\/p>\n<p>1)- Ijtihad yang dilakukan tidak keluar dari nilai-nilai al-Qur\u2019an dan as-sunnah<\/p>\n<p>2)- Tidak berseberangan penafsirannya dengan penafsiran bil ma\u2019tsur, Seorang mufassir harus menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir beserta perangkat-perangkatnya.<\/p>\n<p>Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan metodologi ini diantaranya :<\/p>\n<ol>\n<li>Tafsir Al-Qurtuby (\u0627\u0644\u062c\u0627\u0645\u0639 \u0644\u0623\u062d\u0643\u0627\u0645 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646\u00a0)<\/li>\n<li>Tafsir Al-Jalalain (\u062a\u0641\u0633\u064a\u0631 \u0627\u0644\u062c\u0644\u0627\u0644\u064a\u0646)<\/li>\n<li>Tafsir Al-Baidhowy (\u0623\u0646\u0648\u0627\u0631\u0627\u0644\u062a\u0646\u0632\u064a\u0644 \u0648 \u0623\u0633\u0631\u0627\u0631 \u0627\u0644\u062a\u0623\u0648\u064a\u0644).<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong><em>Ar-Ro\u2019yu Al- mazmumah\u00a0<\/em><\/strong>(penafsiran dengan akal yang dicela \/ dilarang), karena bertumpu pada penafsiran makna dengan pemahamannya sendiri. Dan\u00a0<em>istinbath\u00a0<\/em>(pegambilan hukum) hanya menggunakan akal\/logika semata yang tidak sesuai dengan nilai-nilali syariat Islam. Kebanyakan metode ini digunakan oleh para ahli bid\u2019ah yang sengaja menafsirkan ayat al-Qur\u2019an sesuai dengan keyakinannya untuk mengajak orang lain mengikuti langkahnya. Juga banyak dilakukan oleh ahli tafsir priode sekarang ini. Diantara contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Tafsir Zamakhsyary (\u0627\u0644\u0643\u0634\u0627\u0641 \u0639\u0646 \u062d\u0642\u0627\u0626\u0642 \u0627\u0644\u062a\u0646\u0632\u064a\u0644 \u0648 \u0639\u064a\u0648\u0646 \u0627\u0644\u0623\u0642\u0627\u0648\u064a\u0644 \u0641\u064a \u0648\u062c\u0648\u0647 \u0627\u0644\u062a\u0623\u0648\u064a\u0644\u00a0)<\/li>\n<li>Tafsir syiah \u201cDua belas\u201d seperti (\u0645\u0631\u0623\u0629 \u0627\u0644\u0623\u0646\u0648\u0627\u0631 \u0648 \u0645\u0634\u0643\u0627\u0629 \u0627\u0644\u0623\u0633\u0631\u0627\u0631 \u0644\u0644\u0645\u0648\u0644\u064a \u0639\u0628\u062f \u0627\u0644\u0644\u0637\u064a\u0641 \u0627\u0644\u0643\u0627\u0632\u0627\u0631\u0627\u0646\u064a\u00a0) juga\u0645\u0639 \u0627\u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0644\u0639\u0644\u0648\u0645 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646 \u0644\u0623\u0628\u064a \u0627\u0644\u0641\u0636\u0644 \u0627\u0644\u0637\u0628\u0631\u0627\u0633\u064a<\/li>\n<li>Tafsir As-Sufiyah dan Al-Bathiniyyah seperti tafsir\u00a0\u062d\u0642\u0627\u0626\u0641 \u0627\u0644\u062a\u0641\u0633\u064a\u0631 \u0644\u0644\u0633\u0644\u0645\u064a \u0648 \u0639\u0631\u0627\u0626\u0633 \u0627\u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0641\u064a \u062d\u0642\u0627\u0626\u0642 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646 \u0644\u0623\u0628\u064a \u0645\u062d\u0645\u062f \u0627\u0644\u0634\u064a\u0631\u0627\u0632\u064a<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>SYARAT DAN ADAB PENAFSIR AL-QUR\u2019AN<\/strong><\/p>\n<p>Untuk bisa menafsirkan al-Qur\u2019an, seseorang harus memenuhi beberapa kreteria diantaranya:<\/p>\n<p>1)- Beraqidah\u00a0<em>shahihah<\/em>, karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>2)- Tidak dengan hawa nafsu semata, Karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan pendapatnya sendiri tanpa melilhat dalil yang ada. Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya.<\/p>\n<p>3)- Mengikuti urut-urutan dalam menafsirkan al-Qur\u2019an seperti penafsiran dengan al-Qur\u2019an, kemudian as-sunnah, perkataan para sahabat dan perkataan para tabi\u2019in.<\/p>\n<p>4)- Faham bahasa arab dan perangkat-perangkatnya, karena al-Qur\u2019an turun dengan bahasa arab. Mujahid berkata;\u00a0<em>\u201cTidak boleh seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicara tentang Kitabullah (al-Qur\u2019an) jikalau tidak menguasai bahasa arab\u201c.<\/em><\/p>\n<p>5)- memiliki pemahaman yang mendalam agar bisa\u00a0<em>mentaujih\u00a0<\/em>(mengarahkan) suatu makna atau<em>mengistimbat\u00a0<\/em>suatu hukum sesuai dengan nusus syari\u2019ah,<\/p>\n<p>6)- Faham dengan pokok-pokok ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur\u2019an seperti ilmu\u00a0<em>nahwu<\/em>(grammer),\u00a0<em>al-Isytiqoq\u00a0<\/em>(pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang lainnya),\u00a0<em>al-ma\u2019ani<\/em>,\u00a0<em>al-bayan, al-badi\u2019<\/em>, ilmu\u00a0<em>qiroat\u00a0<\/em>(macam-macam bacaan dalam al-Qur\u2019an), aqidah shaihah,\u00a0<em>ushul fiqh, asbabunnuzul,\u00a0<\/em>kisah-kisah dalam islam, mengetahui\u00a0<em>nasikh wal mansukh<\/em>,\u00a0<em>fiqh, hadits<\/em>, dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan.<\/p>\n<p>Adapun adab yang harus dimiliki seorang mufassir adalah sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li>Niatnya harus bagus, hanya untuk mencari keridloan Allah semata. Karena seluruh amalan tergantung dari niatannya (lihat hadist Umar bin Khottob tentang niat yang diriwayatkan oleh bukhori dan muslim diawal kitabnya dan dinukil oleh Imam Nawawy dalam buku Arba\u2019in nya).<\/li>\n<li>Berakhlak mulia, agar ilmunya bermanfaat dan dapat dicontoh oleh orang lain<\/li>\n<li>Mengamalkan ilmunya, karena dengan merealisasikan apa yang dimilikinya akan mendapatkan penerimaan yang lebih baik.<\/li>\n<li>Hati-hati dalam menukil sesuatu, tidak menulis atau berbicara kecuali setelah menelitinya terlebih dahulu kebenarannya.<\/li>\n<li>Berani dalam menyuarakan kebenaran dimana dan kapanpun dia berada.<\/li>\n<li>Tenang dan tidak tergesa-gesa terhadap sesuatu. Baik dalam penulisan maupun dalam penyampaian. Dengan menggunakan metode yang sistematis dalam menafsirkan suatu ayat. Memulai dari asbabunnuzul, makna kalimat, menerangkan susunan kata dengan melihat dari sudut balagho, kemudian menerangkan maksud ayat secara global dan diakhiri dengan mengistimbat hukum atau faedah yang ada pada ayat tersebut.<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>CONTOH KITAB TAFSIR DAN METODOLOGI PENULISANNYA<\/strong><\/p>\n<p><strong>Nama Kitab :\u00a0<\/strong>\u062c\u0627\u0645\u0639 \u0627\u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0641\u064a \u062a\u0641\u0633\u064a\u0631 \u0623\u064a \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646\u00a0atau yang lebih dikenal dengan<\/p>\n<p>tafsir al-Tabary.<\/p>\n<p><strong>Pengarangnya :\u00a0<\/strong>Abu Ja\u2019far Muhammad bin Jarir At-Thobary (224 \u2013 310 H)<\/p>\n<p><strong>Jumlah jilid :\u00a0<\/strong>12 jilid besar.<\/p>\n<p><strong>Keistimewaannya :<\/strong>\u00a0Tafsir ini merupakan referensi bagi para mufassirin terutama penafsiran binnaqli\/biiriwayah.\u00a0Tafsir bil aqli karena istinbath hukum, penjabaran berbagai pendapat dengan dan mengupasnya secara detail disertai analisa yang tajam.\u00a0Ia merupakan tafsir tertua dan terbagus.<\/p>\n<p><strong>Metodologi Penulisannya:<\/strong><\/p>\n<p>Penulis menafsirkan ayat al-Qur\u2019an dengan jelas dan ringkas dengan menukil pendapat para sahabat dan tabi\u2019in disertai sanadnya. Jikalau dalam ayat tersebut ada dua pendapat atau lebih, di sebutkan satu persatu dengan dalil dan riwayat dari sahabat maupun tabi\u2019in yang mendukung dari tiap-tiap pendapat kemudian\u00a0<em>mentarjih (<\/em>memilih) diantara pendapat tersebut yang lebih kuat dari segi dalilnya. Beliau juga\u00a0<em>mengii\u2019rob<\/em>\u00a0(menyebut harakat akhir),\u00a0<em>mengistimbat\u00a0<\/em>hukum jikalau ayat tersebut berkaitan dengan masalah hukum. Ad-Dawudy dalam bukunya\u00a0<em>\u201cThobaqah al-Mufassirin\u201c\u00a0<\/em>mengomentari metode ini dengan ungkapannya:\u201c Ibnu jarir telah menyempurnakan tafsirnya dengan menjabarkan tentang hukum-hukum, nasih wal mansuh, menerangkan mufrodat (kata-kata) sekaligus maknanya, menyebutkan perbedaaan ulama\u2019 tafsir dalam masalah hukum dan tafsir kemudian memilih diantara pendapat yang terkuat, mengi\u2019rob kata-kata, mengkonter pendapat orang-orang sesat, menulis kisah ,berita dan kejadian hari kiamat dan lain-lainnya yang terkandung didalamnya penuh dengan hikmah dan keajaiban tak terkira kata demi kata, ayat demi ayat dari isti\u2019adzah sampai abi jad (akhir ayat). Bahkan jikalau seorang ulama\u2019 mengaku mengarang sepuluh kitab yang diambil dari tafsir ini, dan setiap kitab mengandung satu disiplin keilmuan dengan keajaiban yang mengagungkan akan diakuinya (karangan tersebut).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>2. Tafsir Ibnu Katsir<\/strong><\/p>\n<p><strong>Nama kitab :\u00a0<\/strong>\u062a\u0641\u0633\u064a\u0631 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646 \u0627\u0644\u0639\u0638\u064a\u0645\u00a0lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir.<\/p>\n<p><strong>Jumlah jilid :\u00a0<\/strong>4 Jilid<\/p>\n<p><strong>Nama penulis :\u00a0<\/strong>Imaduddin Abul Fida\u2019 Ismail bin Amr bin Katsir (w 774 H)<\/p>\n<p><strong>Keutamaanya :\u00a0<\/strong>Merupakan tafsir terpopuler setelah tafsir At-Thobary dengan<\/p>\n<p>metode bil ma\u2019tsur.<\/p>\n<p><strong>Metodologi penulisannya:<\/strong><\/p>\n<p>Penulis sangat teliti dalam mentafsirkan ayat-ayat al-Qur\u2019an dengan menukil perkataan para salafus sholeh. Ia menafsirkan ayat dengan ibarat yang jelas dan mudah dipahami. Menerangkan ayat dengan ayat yang lainnya dan membandingkannya agar lebih jelas maknanya. Beliau juga menyebutkan hadits-hadits yang berhubungan dengan ayat tersebut dilanjutkan dengan penafsiran para sahabat dan para tabi\u2019in. Beliau juga sering\u00a0<em>mentarjih\u00a0<\/em>diantara beberapa pendapat yang berbeda, juga mengomentari riwayat yang shoheh atau yang\u00a0<em>dhoif<\/em>(lemah). mengomentari periwayatan\u00a0<em>isroiliyyat.\u00a0<\/em>Dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, ia menyebutkan pendapat para Fuqaha (ulama\u2019 fiqih) dengan mendiskusikan dalil-dalilnya, walaupun tidak secara panjang lebar. Imam Suyuthy dan Zarqoni menyanjung tafsir ini dengan berkomentar ;\u201d\u00a0<em>Sesungguhnya belum ada ulama\u2019 yang mengarang dalam metode seperti ini \u201c.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>3. Tafsir Al-Qurtuby<\/strong><\/p>\n<p><strong>Nama kitab :\u00a0<\/strong>\u0627\u0644\u062c\u0627\u0645\u0639 \u0644\u0623\u062d\u0643\u0627\u0645 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646<\/p>\n<p><strong>Jumlah jilid :\u00a0<\/strong>11 jilid dengan daftar isinya<strong>.<\/strong><\/p>\n<p><strong>Nama penulisnya :\u00a0<\/strong>Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtuby (w 671 H).<\/p>\n<p><strong>Keutamaanya\u00a0<\/strong>: Ibnu Farhun berkata,\u201d tafsir yang paling bagus dan paling<\/p>\n<p>banyak manfaatnya, membuang kisah dan sejarah, diganti<\/p>\n<p>dengan hukum dan istimbat dalil, serta menerangkan I\u2019rob,<\/p>\n<p>qiroat, nasikh dan mansukh\u201d.<\/p>\n<p><strong>Metode penulisannya :<\/strong><\/p>\n<p>Penulis terkenal dengan gaya penulisan ulama\u2019 fiqih., dengan menukil tafsir dan hukum dari para ulama\u2019 salaf dengan menyebutkan pendapatnya masing-masing. Dan membahas suatu permasalahan fiqhiyah dengan mendetil. Membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, juga I\u2019rob, qiroat, nasikh dan mansukh. Beliau tidak\u00a0<em>ta\u2019assub\u00a0<\/em>(panatik) dengan mazhabnya yaitu mazhab\u00a0<em>Maliki<\/em>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>4. Tafsir Syinqithy<\/strong><\/p>\n<p><strong>Nama kitab :\u00a0<\/strong>\u0623\u0636\u0648\u0627\u0621 \u0627\u0644\u0628\u064a\u0627\u0646 \u0641\u064a \u0625\u064a\u0636\u0627\u062d \u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646 \u0628\u0627\u0644\u0642\u0631\u0627\u0646<\/p>\n<p><strong>Jumlah jilid :\u00a0<\/strong>9 jilid<strong>.<\/strong><\/p>\n<p><strong>Nama penulisnya :\u00a0<\/strong>Muhammad Amin al-Mukhtar As-Syinqithy<\/p>\n<p><strong>Metodologi penulisannya:<\/strong><\/p>\n<p>Menekankan penafsiran bil-ma\u2019tsur dengan dilengkafi\u00a0<em>qira\u2019ah as-sab\u2019ah<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>qiro\u2019ah syadz\u00a0<\/em>(lemah) untuk<em>istisyhad\u00a0<\/em>(pelengkap). Menerangkan masalah fiqih dengan terperinci, dengan menyebut pendapat disertai dalil-dalilnya dan mentarjih berdasarkan dalil yang kuat. Pembahasan masalah bahasa dan usul fiqih. Beliau wafat dan belum sempat menyelesaikan tafsirnya yang kemudian dilengkapi oleh murid sekaligus menantunya yaitu Syekh \u2018Athiyah Muhammad Salim.<\/p>\n<p>1\u00a0Adz-Dzahabi,\u00a0<em>at-Tafsir wa al-Mufassirun\u00a0<\/em>1\/13, Manna\u2019 al-Qattan,\u00a0<em>Mabaahits fi Ulumi al-Qur\u2019an\u00a0<\/em>hal : 323.<\/p>\n<p>2\u00a0Abdul Hamid al-Bilaly,\u00a0<em>al-Mukhtashar al-Mashun min Kitab al-Tafsir wa al-Mufashirun,\u00a0<\/em>(Kuwait: Daar al-Dakwah, 1405) hal. 8<\/p>\n<p>3\u00a0Marfu\u2019 adalah perkataaan atau perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad<\/p>\n<p>4\u00a0Mauquf adalah perkataan atau perbuatan yang disandarkan kepada para shohabat<\/p>\n<p>5\u00a0majmu\u2019 fatawa syaikhul Islam ibnu taimiyah 13\/370 dan buku mabahits fi ulumul al-<\/p>\n<p>qur\u2019an ole mann\u2019 al-qotton hal ; 340-342<\/p>\n<blockquote><p>Di ambil dari http:\/\/abusalma.net<\/p><\/blockquote>\n<hr \/>\n<p><script type=\"text\/javascript\">\/\/ <![CDATA[ google_ad_client = \"ca-pub-3290249765240979\"; \/* Kotak besar *\/ google_ad_slot = \"0967429206\"; google_ad_width = 336; google_ad_height = 280; \/\/ ]]><\/script><script type=\"text\/javascript\" src=\"http:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/show_ads.js\">\/\/ <![CDATA[ \/\/ ]]><\/script><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Secara etimologi tafsir bisa berarti:\u00a0\u0627\u0644\u0627\u064a\u0636\u0627\u062d \u0648\u0627\u0644\u0628\u064a\u0627\u0646\u00a0(penjelasan),\u00a0\u0627\u0644\u0643\u0634\u0641\u00a0(pengungkapan) dan\u00a0\u0643\u0634\u0641 \u0627\u0644\u0645\u0631\u0627\u062f \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0644\u0641\u0638 \u0627\u0644\u0645\u0634\u0643\u0644\u00a0(menjabarkan kata yang samar ). 1.\u00a0Adapun secara terminologi tafsir adalah penjelasan terhadap\u00a0Kalamullah\u00a0atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur\u2019an dan pemahamannya. 2.\u00a0Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, karena pembahasannya berkaitan dengan\u00a0Kalamullah\u00a0yang merupakan petunjuk dan pembeda dari yang haq dan bathil. Ilmu tafsir telah dikenal &hellip; <\/p>\n<p><a class=\"more-link btn\" href=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/sejarah-tafsir-dan-perkembangannya\/\">Continue reading<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[215,214,213],"class_list":["post-578","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-akhirat","tag-perkembangan-tafsir","tag-sejarah-tafsir","tag-sejarah-tafsir-dan-perkembangannya","item-wrap"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/578","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=578"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/578\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3831,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/578\/revisions\/3831"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=578"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=578"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=578"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}