{"id":575,"date":"2011-08-31T23:17:20","date_gmt":"2011-08-31T23:17:20","guid":{"rendered":"http:\/\/berilmu.com\/blog\/?p=575"},"modified":"2023-03-27T08:29:03","modified_gmt":"2023-03-27T01:29:03","slug":"metodologi-tafsir-sebuah-pengantar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/metodologi-tafsir-sebuah-pengantar\/","title":{"rendered":"METODOLOGI TAFSIR (Sebuah Pengantar)"},"content":{"rendered":"<p>Al-Qur\u2019an adalah\u00a0<em>Kalamullah\u00a0<\/em>yang diturunkan kepada Nabi Muhammad\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wa Salam<\/em>sebagai mu\u2019jizat yang ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan dengan mutawattir serta membacanya adalah ibadah.<\/p>\n<p>1.\u00a0Diturunkannya kepda jin dan manusia agar bisa dijadikan petunjuk (<em>hudan<\/em>) dan pembeda\u00a0<em>(furqan)\u00a0<\/em>antara kebenaran dan kesesatan, sebagaimana firman Allah\u00a0<em>(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). (QS. 2:185)<\/em> <!--more--><br \/>\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block; text-align: center;\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-3722339219833725\" data-ad-slot=\"1935354156\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><br \/>\n<em>Allah menurunkan al-Qur\u2019an untuk dibaca dengan penuh penghayatan (Tadabbur), meyakini kebenarannya dan berusaha untuk mengamalkannya. Allah berfirman,\u201d Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. 4:82). Juga firman Allah , \u201cMaka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur\u2019an ataukah hati mereka terkunci (QS. 47:24).<\/em><\/p>\n<p>Agar bisa mewujudkan perintah Allah tersebut, seorang harus bisa memahami makna dan kandungannya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata;\u00a0<em>Apabila anda ingin mengambil pelajaran dari Al-Qur\u2019an, maka pusatkanlah hati dan pikiran anda di saat membaca dan mendengarnya. Dan pasanglah pendengaran anda baik-baik karena Allah berfirman,\u201d Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya\u201d.\u00a0<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>2.\u00a0<\/em>Al-Qur\u2019an diturunkan dengan bahasa Arab, sebagaimana firman Allah,\u201d\u00a0<em>Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur\u2019an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya\u201d. (QS. 12: 2).<\/em>Dengan demikian, orang yang ingin menafsirkan AL-Qur\u2019an harus memahami bahasa Arab baik\u00a0<em>qaidah lughawiyahnya<\/em>\u00a0seperti nahwu, sharf (gramatical), maupun\u00a0<em>ta\u2019biriyah\u00a0<\/em>(Linguistic) seperti\u00a0<em>majaz, balagah<\/em>,<em>I\u2019jaz\u00a0<\/em>dan lainnya. Juga Ulumul qur\u2019an seperti asbaab an-nuzul, nasikh mansukh, qira\u2019ah dan lainnya. Studi interdisipliner juga diperlukan oleh seorang Mufassir, mengingat Al-Qur\u2019an tidak hanya berbicara masalah keimanan, ibadah dan syariah saja, tetapi juga memuat isyarat-isyarat ilmu pengetahuan yang lainnya. Allah berfirman,\u00a0\u00bb<em>\u00a0Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab (QS.6\u00a0:38).<\/em><\/p>\n<p>Sebagai sebuah metode, qaidah-qaidah penafsiran telah ada sejak zaman sahabat, namun menjadi sebuah disiplin ilmu yang berada di dalam ilmu tafsir, penentuan tahunnya agak sulit dilacak. Yang jelas ketika ekspansi dakwah islam masuk wilayah-wilayah\u00a0<em>ajam\u00a0<\/em>(non Arab) dan ajar Islam tersebar luas terutama abad ketiga hijrah, maka di sini muncul ilmuan muslim yang mengajarkan Islam termasuk menulis masalah Islam sesuai dengan disiplin mereka masing-masing.\u00a0Untuk memudahkan mereka melakukan penafsiran sekaligus memberikan rambu-rambu agar tidak terjerumus dalam kesalahan, maka dibakukanlah qaidah-qaidah tersebut.<\/p>\n<p>Secara global penafsiran ayat-ayat Al-Qur\u2019an dilakukan oleh Al-Qur\u2019an sendiri. Ayat-ayat yang di-<em>mujmal-<\/em>kan pada suatu tempat akan dijelaskan di tempat lain, baik itu disebutkan pada tempat yang sama seperti firman Allah\u00a0:<\/p>\n<p>\u0648\u0645\u0627 \u0623\u062f\u0631\u064a \u0643\u0645\u0627 \u0644\u064a\u0644\u0629 \u0627\u0644\u0642\u062f\u0631,\u00a0\u0644\u064a\u0644\u0629 \u0627\u0644\u0642\u062f\u0631 \u062e\u064a\u0631 \u0645\u0646 \u0623\u0644\u0641 \u0634\u0647\u0631\u00a0\u2026..<\/p>\n<p>atau disebutkan pada tempat (surat) yang lain sebagaimana tafsir ayat<\/p>\n<p>\u0635\u0631\u0627\u0637 \u0627\u0644\u0630\u064a\u0646 \u0623\u0646\u0639\u0645\u062a \u0639\u0644\u064a\u0647\u0645<\/p>\n<p>adalah ayat :<\/p>\n<p>\u0641\u0623\u0644\u0626\u0643 \u0645\u0639 \u0627\u0644\u0630\u064a\u0646 \u0623\u0646\u0639\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647\u0645 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0646\u0628\u064a\u064a\u0646 \u0648\u0627\u0644\u0635\u062f\u0642\u064a\u0646 \u0648\u0627\u0644\u0634\u0647\u062f\u0627\u0621 \u0648\u0627\u0644\u0635\u0627\u0644\u062d\u064a\u0646 \u0648 \u062d\u0633\u0646 \u0623\u0648\u0644\u0626\u0643 \u0631\u0641\u064a\u0642\u0627<\/p>\n<p><em>Artinya,\u201d Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)<\/em><\/p>\n<p>Apabila methode ini tidak ada, maka menafsirkan Al-qur\u2019an dengan Sunnah Rasulullah. Karena ia merupakan penjelasan bagi al-Qur\u2019an. Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wa Salam<\/em>\u00a0bersabda,\u00a0<em>\u201cAku diberi Al-Qur\u2019an dan sesuatu yang serupa dengannya (yaitu As-Sunnah)\u00a0<\/em>(HR. Muslim ).<\/p>\n<p>Ketika Aisyah ditanya bagaimana kepribadian (akhlak) Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wa Salam<\/em>\u00a0, Beliau menjawab:<\/p>\n<p>(\u0643\u0627\u0646 \u062e\u0644\u0642\u0647 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0622\u0646\u00a0)<\/p>\n<p>Maksudnya:\u00a0<em>Akhlak Rasulullah adalah Al-Qu\u2019an\u00a0<\/em>(HR. Muslim ).<\/p>\n<p>Apabila tidak ada tafsiran dari Sunnah Rasulullah, maka mempergunakan perkataan Sahabat. Karena mereka melihat fakta dan realita kejadian Sunnah dan menerima ilmu langsung dari Rasulullah. Abdullah bin Mas\u2019ud berkata;\u00a0<em>Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, tidak ada satu ayat dari Kitabullah, kecuali saya mengetahui untuk siapa diturunkan dan di mana diturunkan, kalau ada orang yang lebih mengetahui tentang Kitabullah akan saya datangi sekalipun ada di ujung dunia.<\/em><\/p>\n<p>Begitu juga dengan Abdullah bin Abbas yang dijuluki oleh Rasulullah\u00a0<em>Shallallahu \u2018alaihi wa Salam<\/em>sebagai\u00a0<em>Tarjuman AL-Qur\u2019an\u00a0<\/em>dan sahabat yang lain seperti Said bin Musayyab, dan lainnya.<\/p>\n<p>Kalau dengan Al-Qur\u2019an, Sunnah dan perkataan sahabat tidak ada, maka sebagian Ulama mengharuskan merujuk kepada perkataan\u00a0<em>Tabi\u2019in.\u00a0<\/em>seperti Hasan Bashri, Atha\u2019 bin Rabah, Mujahid bin Jubair murid Abdullah bin Abbas yang pernah mengemukakan Al-Qur\u2019an dari awal sampai akhir dan menanyakan tafsir dari setiap ayat yang dibaca. Sufyan At-Tsauri berkata; Apabila ada tafsir dari Mujahid maka itu sudah cukup.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>3.\u00a0Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, menyebutkan penafsiran itu ada empat macam:\u00a0<em>Pertama,\u00a0<\/em>Penafsiran yang diketahui oleh orang Arab melalui tuturannya.\u00a0<em>Kedua,\u00a0<\/em>Penafsiran yang bisa diketahui oleh semua orang yaitu yang menyangkut halal dan haram.\u00a0<em>Ketiga,\u00a0<\/em>penafsiran yang hanya diketahui oleh para Ulama,\u00a0<em>Keempat,\u00a0<\/em>Penafsiran yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>4.\u00a0Karena Al-Qur\u2019an diturunkan dengan Bahasa Arab, maka untuk memahami apalagi menafsirkannya dibutuhkan pemahaman terhadap bahasa Arab dan qaidah-qaidahnya, di samping pemahaman terhadap ulumul qur\u2019an yang lain, juga fikih, qawaid dan ushulnya, dan disiplin ilmu yang lain sebagai penunjang. Menafsirkan ayat-ayat Allah dengan\u00a0<em>al-ahwa (<\/em>napsu) semata tanpa didasari dengan ilmu dan pengetahuan termasuk kebohongan terhadap Allah, sebagaimana firman-Nya,\u00a0<em>\u201cDan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta \u201cIni halal dan ini haram\u201d, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung\u201d. (QS.16: 116)<\/em><\/p>\n<p>Rasulullah dalam banyak haditsnya mengingatkan untuk tidak menafsirkan ayat-ayat Allah tanpa ilmu, di antaranya adalah:<\/p>\n<p>\u0645\u0646 \u0642\u0627\u0644 \u0641\u064a \u0627\u0644\u0642\u0631\u0622\u0646 \u0628\u0631\u0623\u064a\u0647 \u0623\u0648 \u0628\u0645\u0627 \u0644\u0627 \u064a\u0639\u0644\u0645 \u0641\u0644\u064a\u062a\u0628\u0648\u0623 \u0645\u0642\u0639\u062f\u0647 \u0645\u0646 \u0627\u0644\u0646\u0627\u0631<\/p>\n<p>Maksudnya;\u00a0<em>Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan pendapatnya atau tanpa dilandaskan dengan ilmu maka silahkan mengambil tempatnya di neraka<\/em>\u201d. Dan dalam riwayat yang lain Rasulullah bersabda;<\/p>\n<p>\u0645\u0646 \u0642\u0627\u0644 \u0641\u064a \u0627\u0644\u0642\u0631\u0622\u0646 \u0628\u0631\u0623\u064a\u0647 \u0641\u0642\u062f \u0623\u062e\u0637\u0623<\/p>\n<p>Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur\u2019an dengan pendapatnya, maka ia telah keliru\u201d, (HR. Turmudzi, Abu Daud, dan Nasa\u2019i) Abu Bakar berkata; Langit yang mana aku bernaung, bumi yang mana aku berpijak, kalau aku menafsirkan Kitabullah tanpa ilmu.<\/p>\n<p>Ini menunjukkan kehati-hatian\u00a0<em>ulama\u2019 salaf<\/em>\u00a0(sahabat, tabi\u2019in dan berikutnya), untuk menafsirkan ayat-ayat Allah tanpa berlandaskan hujjah dan argumentasi yang jelas. Adapun penafsiran yang dilakukan dengan dasar ilmu dan pengetahuan, baik\u00a0<em>syariah\u00a0<\/em>maupun\u00a0<em>lughawiyah\u00a0<\/em>maka tidaklah termasuk dalam ancaman di atas,<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>5.\u00a0menafsirakan AL-Qur\u2019an dengan ijtihad ra\u2019yu sudah ditradisikan sejak zaman Rasulullah, dan itu dilakukan oleh isteri beliau Aisyah yang banyak menafsirkan masalah-masalah penting dalam agama<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>6. Dan Rasulullah sendiri merekomendasikan Mu\u2019adz bin Jabal untuk melakukan Ijtihad dengan ra\u2019yu, dalam memutuskan permasalahan ummat, apabila dia tidak mendapatkan jawabannya itu pada al-Qur\u2019an dan Sunnah. Dan hal seperti ini mesti dilakukan agar Al-Qur\u2019an benar-benar bisa menjadi\u00a0<em>hudan<\/em>(petunjuk) bagi kemaslahatan hidup manusia di dunia dan di akhirat.\u00a0<em>Walllahu A\u2019lam.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>1\u00a0Al-Qur\u2019an dan Terjemahnya, Mujamma\u2019 al-Malik Fahd li thiba\u2019: Madinah Munawarah, tt, hal. 15<\/p>\n<p>2\u00a0QS.Qaaf: 37 lihat\u00a0<em>Kitab Al-Fawaid,\u00a0<\/em>(Beirut: Daarul Kutub Araby, 1414) hal. 1<\/p>\n<p>3\u00a0Ibnu Katsir, Imaduddin.\u00a0<em>Tafsir Al-Qur\u2019an Al-Adzim-Muqaddimah.<\/em>(Riyad: Daar As-Salam, cetakan I, 1997) hal. 20<\/p>\n<p>4. Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah.\u00a0<em>Majmu\u2019 Fatawa-Tafsir-\u00a0<\/em>(Makkah: Mathba\u2019ah al-Hukumah, TT) juz. 13 hal, 375.<\/p>\n<p>5\u00a0Ibnu Katsir.\u00a0<em>Tafsir Al-Qur\u2019an Al-Adzim-Muqaddimah.\u00a0<\/em>Hal.13<\/p>\n<p>6\u00a0Abdullah bin Su\u2019ud Al-Badr,\u00a0<em>Tafsir Ummul Mukminin Aisyah Radiyallahu Anha,\u00a0<\/em>terj.\u00a0<em>Tafsir Aisyah Ummul Mukminin,\u00a0<\/em>(Jakarta:Daar Al-Falah, 1422).<\/p>\n<blockquote><p>Di salin dari http:\/\/abusalma.net<\/p><\/blockquote>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Al-Qur\u2019an adalah\u00a0Kalamullah\u00a0yang diturunkan kepada Nabi Muhammad\u00a0Shallallahu \u2018alaihi wa Salamsebagai mu\u2019jizat yang ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan dengan mutawattir serta membacanya adalah ibadah. 1.\u00a0Diturunkannya kepda jin dan manusia agar bisa dijadikan petunjuk (hudan) dan pembeda\u00a0(furqan)\u00a0antara kebenaran dan kesesatan, sebagaimana firman Allah\u00a0(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai &hellip; <\/p>\n<p><a class=\"more-link btn\" href=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/metodologi-tafsir-sebuah-pengantar\/\">Continue reading<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[211,212],"class_list":["post-575","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-akhirat","tag-metodologi-tafsir","tag-tentang-tafsir","item-wrap"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/575","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=575"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/575\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3832,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/575\/revisions\/3832"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=575"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=575"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=575"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}