{"id":3529,"date":"2021-03-06T17:45:51","date_gmt":"2021-03-06T10:45:51","guid":{"rendered":"http:\/\/www.berilmu.com\/blog\/?p=3529"},"modified":"2021-03-10T12:12:03","modified_gmt":"2021-03-10T05:12:03","slug":"tanya-jawab-vaksin-covid19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/tanya-jawab-vaksin-covid19\/","title":{"rendered":"Tanya Jawab seputar Vaksin Covid19"},"content":{"rendered":"<p>Assalamu\u2019alaikum Warrohmatulloh Wabbarokatuh,<\/p>\n<p>Insya ALLOH saya akan berbagi Ilmu yang saya dapat dari Berbagai Sumber yang Insya ALLOH terpercaya.<\/p>\n<p>Tanya Jawab Seputar Vaksin<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nSiapa saja yang boleh dan tidak boleh di vaksin<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\n1. Berusia di atas 18 tahun. Bagi orang lanjut usia (lansia), sudah bisa mendapatkan persetujuan untuk diberikan vaksin COVID-19.<\/p>\n<p>2. Tekanan darah harus di bawah 180\/110 mmHg.<\/p>\n<p>3. Jika pernah terkonfirmasi COVID-19 lebih dari tiga bulan, bisa diberikan vaksinasi.<\/p>\n<p>4. Bagi ibu hamil vaksinasi masih harus ditunda. Jika ingin melakukan perencanaan kehamilan, bisa dilakukan setelah mendapat vaksinasi kedua COVID-19.<\/p>\n<p>5. Bagi ibu menyusui sudah bisa mendapat vaksinasi.<\/p>\n<p>6. Pada vaksinasi pertama, untuk orang-orang yang memiliki riwayat alergi berat, seperti sesak napas, bengkak, kemerahan di seluruh badan, maupun reaksi berat lainnya karena vaksin, vaksinasi harus diberikan di rumah sakit.<br \/>\n<!--more--><\/p>\n<p><script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block; text-align: center;\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-3722339219833725\" data-ad-slot=\"1935354156\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/p>\n<p>Tetapi, jika reaksi alergi tersebut didapatkan setelah vaksinasi pertama, tidak akan diberikan lagi vaksinasi kedua.<\/p>\n<p>7. Para pengidap penyakit kronik, seperti PPOK, asma, penyakit jantung, penyakit gangguan ginjal, penyakit hati yang sedang dalam kondisi akut atau belum terkendali, vaksinasi ditunda dan tidak bisa diberikan.<\/p>\n<p>&#8211; Tetapi, jika sudah berada dalam kondisi terkendali, diharapkan membawa surat keterangan layak untuk mendapat vaksinasi dari dokter yang merawat.<\/p>\n<p>&#8211; Selain itu, untuk penderita TBC yang sudah menjalani pengobatan lebih dari dua minggu juga sudah bisa divaksinasi.<\/p>\n<p>8. Bagi yang sedang mendapat terapi kanker, maka diwajibkan untuk membawa surat keterangan layak divaksinasi dari dokter yang merawat.<\/p>\n<p>9. Bagi penderita gangguan pembekuan darah, defisiensi imun, dan penerima produk darah\/transfusi, vaksinasi harus ditunda. Vaksinasi COVID-19 bisa diberikan setelah melakukan konsultasi pada dokter yang merawat.<br \/>\n10. Bagi penderita penyakit autoimun sistemik, vaksinasi harus ditunda dan harus dikonsultasikan pada dokter yang merawat.<\/p>\n<p>11. Bagi pengidap penyakit epilepsi atau ayan, vaksinasi bisa dilakukan jika dalam keadaan terkontrol.<br \/>\n12. Untuk para penderita HIV\/AIDS yang minum obat secara teratur, vaksinasi bisa dilakukan.<\/p>\n<p>13. Untuk orang yang menerima vaksinasi lain selain COVID-19, vaksinasi harus ditunda sampai satu bulan setelah vaksinasi sebelumnya.<\/p>\n<p>14. Khusus kelompok lansia yang lebih dari 60 tahun, ada 5 kriteria yang akan ditanyakan untuk menentukan layak divaksinasi, yaitu:<\/p>\n<p>&#8211; Apa mengalami kesulitan saat naik 10 anak tangga?<\/p>\n<p>&#8211; Apa sering mengalami kelelahan?<\/p>\n<p>&#8211; Memiliki paling sedikit 5 dari 11 penyakit, misalnya diabetes, kanker, paru kronis, serangan jantung, nyeri dada, nyeri sendi, gagal jantung kongensif, stroke, penyakit ginjal, hipertensi, asma. Jika hanya memiliki 4 di antaranya, masih tidak bisa divaksinasi COVID-19.<\/p>\n<p>&#8211; Mengalami kesulitan berjalan, kira2 100-200 meter<\/p>\n<p>&#8211; Adanya penurunan badan yang signifikan dalam satu tahun terakhir.<\/p>\n<p>NB: Untuk lansia, jika dari pertanyaan tersebut ada 3 atau lebih dialami, maka vaksin tidak diberikan. Tetapi, jika hanya ada dua yang dialami, vaksin bisa diterima.<\/p>\n<p>Informasi diatas khusus untuk Vaksin Sinovac, untuk selain Vaksin Sinovac akan merujuk ke Pembuat Vaksin tersebut, namun secara General Sama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nUntuk seseorang yang sudah terpapar Covid-19 apakah harus di vaksin?<br \/>\nApabila seseorang telah menerima vaksin, apakah masih ada kemungkinan untuk terkena Covid-19 kembali atau tidak?<\/p>\n<p>\u200b<strong>jawab:<\/strong><br \/>\nSeseorang yang dinyatakan sembuh dari Covid19 maka 3 bulan setelahnya baru bisa ikut kedalam Program Vaksin Pemerintah, kemungkinan terkena Covid19 ada namun risiko lebih kecil, tetap jalankan Protokol kesehatan walaupun sudah di Vaksin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nApakah vaksin covid ini mempengaruhi GEN-DNA dalam tubuh ?maksud nya ketika ada seorang yg divaksin sinovac menikah dengan pasangan beda jenis vaksin (mis.pfizer) nanti akan mempengaruhi keturunannya.<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nBeberapa Pembuat Vaksin melakukan penelitian dan sudah melakukan uji dampak ke DNA dan tidak akan terpengaruh oleh Vaksin atau tidak berbahaya oleh Vaksin, dan jika istri \/ suami berbeda vaksinnya tidak mempengaruhi DNA kedalam tubuh dan kepada keturunannya nanti.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nBagaimana dampaknya kalau orang yang terkena covid dibawah 3 bulan namun sudah tervaksin apakah ada efeknya? mungkin karena orang itu OTG jadi tidak merasa dia kena covid atau tidak<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nMisal OTG dia tidak berasa dan dia tervaksin, maka tidak apa bahkan vaksin bisa juga menjadi Booster untuk tubuhnya<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nMisalnya setelah menerima Vaksin Sinovac ini, Apakah Vaksin Sinovac ini hanya untuk kekebalan tubuh terhadap Virus Covid saja atau bisa juga untuk kekebalan tubuh terhadap virus2 kecil lainnya seperti mudah kena demam, filek, batuk lainnya.<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nVaksin ini spesifik untuk Virus Covid19, tidak bisa di gunakan untuk virus Polio, Influenza, dan virus lainnya, karena Antigen masing2 virus berbeda beda<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nVaksin Covid19 ini bisa bertahan untuk seumur hidup atau tidak<\/p>\n<p><strong>jawab:<\/strong><br \/>\nVaksin Covid19 ini belum ada penelitian untuk bertahan seumur hidup, Lamanya Kekebalan Vaksin Sinovac 99.23% hingga 3 bulan setelah disuntik dan sedang dalam pengamatan lama maksimal kekebalannya, Pengamatan Titer Antibodi paling lama 6 bulan setelah suntikan ke 2 dan masih dalam penelitian.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\napakah ada efek samping secara hormonal? khususnya untuk wanita, misal haid jadi maju \/ mundul dll<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nTidak ada efek samping ke hormonal baik kepada wanita \/ pria<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>\u200bTanya:<\/strong><br \/>\nmau tanya tadi ada vaksin merah putih gmn dengan vaksin Nusantara tadi tidak masuk?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nVaksin Nusantara masih dalam masa uji klinis dan Metodenya berbeda dengan Vaksin Merah Putih yang akan di Produksi masal pada akhir 2021<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nBagaimana cara mengenali orang yg sudah di vaksin tanpa melihat Sertifikat \/ Surat bukti sudah di vaksin bagaimana caranya pembuktiannya?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nSecara Kasat Mata tidak bisa di kenali, dengan menggunakan pemeriksaan titer antibodi tetap belum bisa membuktikan orang tersebut sudah di vaksin \/ belum.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nBagaimana Cara memilih vaksin yang paling efektif dan aman?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nSemua Vaksin yg sudah lolos Uji Klinis BPOM aman dan efektif, dan mengikuti informasi terkini dari Kemenkes untuk Vaksin-vaksin yang benar2 efektif.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nJika sudah di vaksin saat ini lalu muncul jenis baru apakah perlu di vaksin lagi untuk jenis baru atau tidak usah di vaksin lagi?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nVaksin Covid19 ini spesifik, kemungkinan varian virus yang bermutasi sudah bisa pakai Vaksin ini karena antibodi sudah kuat, tapi bisa juga kemungkinan di vaksin lagi yang baru untuk jenis mutasi Covid19, oleh karena itu masih di teliti oleh para ahli.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nKenapa di vaksin sampai 2x apakah karena kandungannya yg pertama berbeda dengan yang kedua<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nKandungannya vaksin ke 2 sama dengan yang pertama, Jadi kenapa 2x di berikan karena dibutuhkan waktu 7 hari untuk Imunitas terbentuk, setelah itu di tambah dosis vaksin yang ke 2 sambil di observasi hasil pemberian vaksin yang pertama, berikut urutan pemberian vaksin sampai imunitas tercapai di hari ke 28.<br \/>\nKekebalan Vaksin Sinovac muncul di hari ke 28 berikut urutannya :<br \/>\nHari ke 0 Dosis Vaksin pertama di berikan<br \/>\nHari ke 7 Imunitas terbentuk<br \/>\nHari ke 14 Dosis Vaksin kedua di berikan<br \/>\nHari ke 28 Imunitas penuh tercapai<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nVirus\/bakteri yg sudah dilemahkan, namun bagaimana cara melemahkan virus tsb dan dari mana kita tahu dia sudah lemah, dan seperti apa standarnya virus yg sudah lemah dan ada di vaksin<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\n\u200bUntuk menjawab detail virus\/bakteri yang sudah dilemahkan dan standarnya seperti apa ada di Ilmu Virologi jawabannya, namun sudah ada jaminan dari Badan2 tertentu seperti BPOM di Indonesia sebelum vaksin di produksi bahwa virus tersebut sudah dilemahkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nApakah vaksin yang ada saat ini sudah bisa melindungi dari virus corona baru B117?<br \/>\n\u200b<br \/>\n<strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nUntuk mutasi B117 Vaksin ini masih bisa digunakan, sedangkan mutasi virus yang di Afrika selatan lebih mengkhawatirkan dan kemungkinan belum bisa menggunakan Vaksin yang ada sekarang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nIsrael itu menggunakan vaksin yang mana ya,soalnya dari analisanya sudah terbukti ada penurunan di negaranya atau sudah teruji begitu.<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nPfizer-BioNTech, namun yang perlu di garis bawahi di Israel ini bukan karena jenis vaksinnya tapi karena cakupannya yg tinggi dalam pemberian vaksin ke pada warga-warganya, ini yang membuat herd immunity di Israel sangat tinggi<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nDok, salah satu yang tidak boleh divaksin tadi kan yang autoimun sistemik. Selama kurang lebih setahun ini kan banyak yang konsumsi imun booster dalam jangka panjang dan berkelanjutan mgkn kah menimbulkan autoimun?<br \/>\n\u200b<br \/>\n<strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nImun Booster jangka panjang sejauh ini belum ditemukan menimbulkan autoimun, dan autoimun ini sangat kompleks penyebabnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\napakah sudah ada penelitian atas vaksin ini untuk anak?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nUntuk anak2 belum perna ada di pengujian, berikut di bawah ini proses pengujian yang sudah dilakukan:<br \/>\nUrutan proses pengujian Vaksin<br \/>\n1. Pre Klinis = Uji pada hewan untuk menilai efikasi dan keamanan<br \/>\n2. Uji Klinis Fase 1 = Dilakukan pada Sukarelawan dewasa sehat, jumlah kecil dibawah 100 orang, uji awal untuk menilai Keamanan serta identifikasi dosis<br \/>\n3. Uji Klinis Fase 2 = Dilakukan pada sukarelawan kelompok khusus, jumlah besar di atas 400 sampai 600 orang, untuk menilai imunogenisitas \/ respon imun.<br \/>\n4. Uji Klinis Fase 3 = Dilakukan pada sukarelawan untuk menilai efikasi dan keamanan lebih lanjut serta efek samping yang timbul.<br \/>\n5. Approved \/ Fase 4 = Dilakukan pemantauan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) pada vaksin yang telah dipergunakan secara luas (PMS=Post Marketing Surveillance)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nApakah boleh vaksin ini untuk penderita kanker?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nselama dia sudah remisi yaitu kanker sedang tidak aktif dan tidak mengkonsumsi obat2an immunosupressant obat2an kemoterapi dan sudah terkontrol oleh dokter yang menanggulangi kanker maka boleh di vaksinasi<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\napakah ada batasannya untuk dilakukan vaksin setiap orang satu kali kah atau dua kali kah atau lebih?<br \/>\n\u200b<br \/>\n<strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nUntuk Sinovac di berikan 2x dan jika antibodi menurun dalam beberapa bulan misal bulan ke 6 antibodi turun maka kemungkinan akan ada suntikan imun Booster, oleh karena itu setelah suntikan ke 2 dipantau ketahanan antibodinya, dan kita tunggu info dari Kemenkes untuk imun booster ini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nKapan vaksin Gotong Royong atau Vaksin yang non program pemerintah (gratis) ini bisa digunakan oleh Perusahaan dengan membeli sendiri?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nPendistribusian Vaksin Gotong Royong di laksanakan oleh Kemenkes dan BioFarma kepada pelayanan kesehatan milik Swasta yang bekerja sama dengan badan hukum, saat ini sedang dalam proses.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nJika sudah di vaksin nanti akan dapat sertifikat vaksin, apakah nanti jika ingin bepergian cukup memberikan bukti sertifikat vaksin ini atau masih dibutuhkan Test seperti Rapid Test Antigen PCR \/ Swab Test Antigen?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nMasih menunggu pemerintah akan hal ini<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nPemberian Vaksin Covid19 selain di suntik ada tidak seperti di Minum \/ di semprot lewat Hidung<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nSaat ini di Indonesia hanya ada Vaksin suntik, namun di luar negeri sudah ada Vaksin Covid19 yang di hirup lewat hidung yang tujuannya untuk merangsang Immuno globulin A yg ada di selaput pernafasan, tujuannya untuk meniru cara covid ini menginfeksi manusia lewat hidung, selain vaksin covid19 ada yg di minum seperti vaksin polio.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nApakah penderita Hipotensi \/ darah rendah boleh di vaksin<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nSelama ini belum ada Baseline dan Juknis untuk larangan di vaksin, nanti sebelum di vaksin akan ada screening kembali.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nVaksin itu bagusnya serentak di berikan agar herd immunity bisa tercipta, namun jika tidak serentak maka nanti apakah efek herd immunity jadi tidak tercipta<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nIya bisa bila Vaksin yg sudah di berikan ke orang yg duluan antibodi bisa bertahan tahunan maka tidak masalah untuk diberikan tidak serentak, dan benar herd immunity bisa lambat atau gagal karena jika kekebalan antibodi dari vaksin sudah habis maka orang tersebut bisa terpapar Covid19 dengan parah kembali, idealnya vaksin ini serentak.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya:<\/strong><br \/>\nDunia dikatakan bebas Covid19 seperti apa?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nTahapan nya adalah Pandemi yaitu menginfeksi seluruh Dunia, lalu Endemi hanya beberapa wilayah saja dan terakhir Eradikasi yaitu hilangnya virus Covid19, untuk mencapai Eradikasi kita butuh Vaksin untuk mempercepat proses Eradikasi tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Tanya :<\/strong><br \/>\nVaksin Sinovac apakah mempan terhadap Varian P.1 dari Brazil dan B.1.1.7 dari Inggris?<\/p>\n<p><strong>Jawab:<\/strong><br \/>\nUntuk Varian B1.1.7 dari Inggris Iya, untuk Varian P.1 dari Brazil tidak.<\/p>\n<p>Penelitian di Brasil ini dilakukan dengan mengambil sampel plasma dari delapan orang yang telah disuntik vaksin\u00a0Sinovac, Dari hasil makalah penelitian, sampel plasma dari delapan orang yang divaksin dengan CoronaVac\u00a0Sinovac\u00a0itu ternyata gagal menetralkan garis keturunan P.1 atau 20J\/501Y.V3.<br \/>\nHasil ini menunjukkan bahwa virus P.1 mungkin lolos dari antibodi penawar yang disebabkan oleh CoronaVac, kata gabungan para peneliti dari Universitas Sao Paulo Brasil dan Fakultas Kedokteran Universitas Washington.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Vaksin Sinovac Aman, Suci dan Halal dari BPOM MUI<br \/>\nVaksin adalah Hak Anda<\/p>\n<p>Terima Kasih kepada seluruh Pembaca dan Nara Sumber, untuk Artikel Tanya jawab Ini bersumber \/ didapat dari:<\/p>\n<p>1. Media Berita Elektronik terakreditasi.<br \/>\n2. WHO CDC (center of decease), Vaccine and Immunization<br \/>\n3. Wikipedia (Vaksin and Covid19)<br \/>\n4. dr. Fitrinilla Alresna, Sp.PD dalam Health Talk di PT Maxpowergroup a member of Medco group and supported by RS Permata Depok, ACA Asuransi dan Proteksindo.<br \/>\n5. Banyak lagi sumber2 yang tidak mungkin di tulis satu persatu.<\/p>\n<p>Semoga Kita Semua diberikan kesehatan, keselamatan dan bisa menjalani Pandemi ini dengan selamat, Aamiin Ya Robbal\u2019alamin.<\/p>\n<p>Wassalamu\u2019alaikum Warrohmatulloh Wabbarokatuh<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Assalamu\u2019alaikum Warrohmatulloh Wabbarokatuh, Insya ALLOH saya akan berbagi Ilmu yang saya dapat dari Berbagai Sumber yang Insya ALLOH terpercaya. Tanya Jawab Seputar Vaksin Tanya: Siapa saja yang boleh dan tidak boleh di vaksin Jawab: 1. Berusia di atas 18 tahun. Bagi orang lanjut usia (lansia), sudah bisa mendapatkan persetujuan untuk diberikan vaksin COVID-19. 2. Tekanan &hellip; <\/p>\n<p><a class=\"more-link btn\" href=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/tanya-jawab-vaksin-covid19\/\">Continue reading<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[146],"tags":[1191,1192],"class_list":["post-3529","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-dunia","tag-tanya-jawab-vaksin","tag-tanya-jawab-vaksin-covid19","item-wrap"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3529","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3529"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3529\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3548,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3529\/revisions\/3548"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3529"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3529"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3529"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}