{"id":27,"date":"2010-08-29T22:56:51","date_gmt":"2010-08-29T22:56:51","guid":{"rendered":"http:\/\/berilmu.com\/blog\/?p=27"},"modified":"2023-03-27T08:15:24","modified_gmt":"2023-03-27T01:15:24","slug":"asal-usul-pendirian-kabah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/asal-usul-pendirian-kabah\/","title":{"rendered":"Asal Usul Pendirian Ka&#8217;bah"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/berilmu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2010\/08\/Kabah-3D.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-29\" title=\"Ka'bah 3D\" src=\"http:\/\/berilmu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2010\/08\/Kabah-3D.jpg\" alt=\"\" width=\"530\" height=\"492\" srcset=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2010\/08\/Kabah-3D.jpg 530w, https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2010\/08\/Kabah-3D-300x278.jpg 300w, https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2010\/08\/Kabah-3D-323x300.jpg 323w\" sizes=\"(max-width: 530px) 100vw, 530px\" \/><\/a> Ka\u2019bah adalah kiblat seluruh kaum muslimin dunia yang menjadi simbol kesatuan mereka dibawah ikatan tauhid dan keimanan kepada ALLAH SWT.\u00a0Ka\u2019bah adalah bangunan pertama di bumi, sebagaimana firman ALLAH SWT\u00a0(<a href=\"http:\/\/www.berilmu.com\/web\/alquran\/alquran.php?Surat_Id=3&amp;&amp;Ayat_Id=96\">QS. 3 : 96<\/a>) <strong><em>Bantahan terhadap pengakuan Ahli Kitab tentang rumah ibadah yang pertama<\/em><\/strong> <img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.berilmu.com\/web\/alquran\/img\/s003\/a096.png\" alt=\"\" \/> 96. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia<strong>. <\/strong><em>Ahli kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis, oleh karena itu Allah membantahnya.<\/em> Pembangunan ka\u2019bah hingga seperti yang sekarang ini telah melalui beberapa tahapan :<!--more--><br \/>\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block; text-align: center;\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-3722339219833725\" data-ad-slot=\"1935354156\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><br \/>\n<strong>1. Dibangun oleh para malaikat<\/strong>.<\/p>\n<div>Kaum muslimin meyakini bahwa pembangunan ka\u2019bah pertama kali dilakukan oleh para malaikat, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu adh Dhiya bahwa telah diriwayatkan dari Ali bin al Husein bahwa dia telah ditanya tentang awal mula thawaf mengelilingi baitullah beliau menjawab Sesungguhnya ALLAH\u00a0SWT telah berfirman :<\/div>\n<div><\/div>\n<div><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.berilmu.com\/web\/alquran\/img\/s002\/a030.png\" alt=\"\" \/> Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: &#8220;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.&#8221; Mereka berkata: &#8220;Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?&#8221; Tuhan berfirman: &#8220;Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.&#8221;\u00a0\u00a0(<a href=\"http:\/\/www.berilmu.com\/web\/alquran\/alquran.php?Surat_Id=2&amp;&amp;Ayat_Id=30\">QS. Al Baqoroh : 30<\/a>)<\/div>\n<p>Para malaikat berkata,\u201dWahai ALLAH bukankah khalifah itu dari selain kami adalah yang selalu membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah.\u2019 Maka ALLAH\u00a0pun marah terhadap mereka lalu mereka pun melarikan diri ke arsy, mengangkat kepala, jari jemari mereka mengisyaratkan ketundukan dan menangis karena takut akan kemurkaan-Nya. Mereka mengeilingi arsy sebanyak tiga kali.\u201d Di dalam riwayat : \u201ctujuh kali\u201d mengaharapkan keridhoan Tuhan mereka dan ALLAH SWT pun meridhoi mereka. Kemudian ALLAH SWT\u00a0berkata kepada mereka,\u201dBangunlah oleh kalian di bumi sebuah rumah yang menjadi tempat kembali setiap orang yang Aku murka terhadapnya dari makhluk-Ku dan dia mengelilinginya (thawaf) sebagaimana kalian lakukan terhadap arsy-Ku maka Aku akan mengampuninya sebagaimana Aku telah mengampuni kalian.\u201d Lalu mereka pun membangun ka\u2019bah. Terdapat riwayat pula yang menyebutkan bahwa ALLAH SWT\u00a0telah mengutus malaikat dan berkata kepada mereka,\u201dBangunlah oleh kalian sebuah rumah seperti al baitul ma\u2019mur lalu mereka pun melakukannya.\u00a0ALLAH SWT memerintahkan agar rumah itu dikelilingi (thawaf) sebagaimana al baitul ma\u2019mur. Ini terjadi sebelum penciptaan Adam as serta 2000 tahun sebelum penciptaan bumi. Dan sesungguhnya bumi dibentangkan dibawahnya karena itulah Mekah disebut dengan Ummul Quro yaitu asal negeri (bumi, pen). Terdapat pula riwayat yang menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebelum diturunkannya Adam as ke bumi\u2026 (Tarikh Makkah al Musyarrafah hal 4) <strong>2. Wasiat Nabi Adam kepada anaknya Nabi Sys<\/strong> Sys adalah penerus dari Nabi Adam as yang diberikan wasiat oleh ayahnya untuk senantiasa beribadah siang dan malam. Ibnul Atsir menyebutkan bahwa Sys senantiasa melakukan haji dan umroh hingga ajal menjemputnya dan dia juga mengumpulkan lembaran-lembaran yang diturunkan kepadanya dan kepada ayahnya lalu mengamalkan isinya. Sys telah membangun ka\u2019bah dengan batu dan tanah. (Al Kamil Fii at Tarikh juz I hal 17) <strong>3. Pada masa Ibrahim dan Ismail as.<\/strong> As Suddiy mengatakan bahwa tatkala ALLAH SWT\u00a0memerintahkan Ibrahim dan Ismail agar membangun sebuah rumah lalu mereka berdua tidak mengetahui dimana tempat akan dibangunnya hingga ALLAH SWT\u00a0mengirimkan angin, ada yang menyebutkan angin itu adalah al khajuj yang memiliki dua sayap sementara kepalanya berbentuk ular. Lalu ular itu membersihkan daerah sekitar ka\u2019bah sebagai tempat dibangunnya rumah pertama. Keduanya pu mengikutinya dengan membawa alat penggali dan melakukan penggalian sehingga mereka berdua berhasil meletakkan pondasinya, sebagaimana firman\u00a0ALLAH SWT. <img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.berilmu.com\/web\/alquran\/img\/s022\/a026.png\" alt=\"\" \/> Artinya : \u201cDan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): &#8220;Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku&#8217; dan sujud.\u201d (<a href=\"http:\/\/www.berilmu.com\/web\/alquran\/alquran.php?Surat_Id=22&amp;&amp;Ayat_Id=26\">QS. Al Hajj : 26<\/a>) Setelah mereka berdua meletakkan dasar-dasarnya maka dibangunlah rukun-rukunnya. Dan Ibrahim mengatakan kepada Ismail,\u201dWahai anakku, carikanlah untukku batu hitam dari daerah India, dahulunya ia adalah batu yakut yang paling putih. Dahulu batu itu dibawa oleh Adam as tatkala diturunkan ke bumi dari surga namun kemudian berubah warnanya menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. Ismail pun membawa sebuah batu namun ia mendapatkan batu hitam itu sudah berada disalah satu sudut. Ia pun bertanya kepada ayahnya,\u201dWahai ayahku siapa yang mendatangkan batu itu kepadamu?\u2019 Ibarahim menjawab,\u201dDia adalah yang lebih rajin darimu.\u201d Maka mereka berdua membangunnya dan sambil berdoa,\u201d <img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.berilmu.com\/web\/alquran\/img\/s002\/a127.png\" alt=\"\" \/> Artinya : Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): &#8220;Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui&#8221;.\u00a0(<a href=\"http:\/\/www.berilmu.com\/web\/alquran\/alquran.php?Surat_Id=2&amp;&amp;Ayat_Id=127\">QS. Al Baqoroh : 127<\/a>) <strong>4. Dibangun oleh orang-orang Quraisy.<\/strong> Pada usia Rasulullah saw mencapai tiga puluh lima tahun, orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi ka\u2019bah. Ka\u2019bah adalah susunan batu-batu yang lebih tinggi dari badan manusia, sekitar sembilan hasta yang dibangun sejak masa Ismail tanpa memiliki atap sehingga banyak pencuri yang mengambil barang-barang berharga yang disimpan didalamnya. Lima tahun sebelum tahun kenabian, Mekah dilanda banjir besar sehingga meluap ke Masjidil Haram dan dikhawatirkan sewaktu-waktu akan dapat meruntuhkan ka\u2019bah. Orang-orang Quraisy merasa bimbang antara merenovasi atau membiarkannya seperti apa adanya. Akhirnya al Walid bin al Mughirah al Makhzumiy mengawali perobohan bangunan ka\u2019bah lalu diikuti oleh orang-orang setelah mereka mengetahui tidak terjadi sesuatupun menimpa al Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan ka\u2019bah hingga sampai rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali. Tatkala pembangunan sampai di bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad itu ditempatnya semula. Perselisihan ini terus berlangsung selama empat atau lima hari, tanpa ada keputusan. Bahkan perselisihan itu semakin meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan darah di tanah suci. Abu Umayyah bin al Mughirah al Makhzumiy datang dan menawarkan solusi dengan menyerahkan urusan ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima cara ini. ALLAH SWT\u00a0menghendaki orang yang berhak atasnya adalah Rasulullah SAW. Tatkala mengetahui hal itu, mereka berbisik-bisik,\u201dInilah al Amin. Kami ridho kepadanya, inilah dia Muhammad.\u201d Orang-orang Quraisy kehabisan dana dari penghasilan mereka, maka mereka menyisakan di bagian utara, kira-kira enam hasta, yang kemudian disebut al Hijr atau al Hathim. Mereka membuat pintunya lebih tinggi dari permukaan tanah, agar tidak bisa dimasuki kecuali oleh orang yang memang ingin melewatinya. Setelah bangunan ka\u2019bah mencapai ketinggian lima belas hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi. Setelah jadi, ka\u2019bah itu berbentuk segi empat, yang keinggiannya kira-kira mencapai lima belas hasta, panjang sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah sepuluh meter. Hajar Aswad itu sendiri diletakkan dengan ketinggian satu setengah meter dari permukaan pelataran untuk thawaf. Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya setinggi dua belas meter. Adapun pintunya setinggi dua meter dari permukaan tanah, di sekeliling luar ka\u2019bah ada pagar dari bagian bawah ruas-ruas bangunan, di bagian tengahnya dengan ketinggian seperempat meter dan lebarnya kira-kira sepertiga meter. Pagar ini dinamakan Asy Syadzarawan. Namun kemudian orang-orang Quraisy meninggalkannya. (ar Rakhiqul Makhtum hal 84 \u2013 85) <strong>5. Pada masa Abdullah bin Zubeir.<\/strong> Abdullah bin Zubeir memutuskan perenovasian ka\u2019bah seperti yang diinginkan Rasulullah saw ketika beliau masih hidup. Dia pun merobohkannya dan membangun kembali serta menambahkan bagian yang masih kurang ketika orang-orang Quraisy kehabisan dana dari enam hasta menjadi sepuluh hasta. Dia juga menjadikan ka\u2019bah memiliki dua pintu, satu di sebelah timur dan lainnya di sebelah barat sehigga orang yang memasukinya dari satu pintu dan keluar di pintu yang lainnya. Dia menjadikannya dalam bentuk yang paling baik dan megah sehingga seperti yang disifatkan Nabi saw sebagaimana diberitakan oleh Aisyah ra ibu orang-orang beriman yang juga bibinya. <strong>6. Pada masa Abdul Malik bin Marwan<\/strong> Pada masa Abdul Malik bin Marwan ini al Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqofiy menulis surat kepadanya atas apa yang diperbuat Abdullah bin Zubeir dengan ka\u2019bah, tentang perenovasian dan penambahan bagian ka\u2019bah, dia mengira bahwa hal itu adalah hasil fikiran dan ijtihadnya. Lalu Abdullah bin Malik membalas suratnya agar mengembalikan ka\u2019bah seperti sedia kala. Al Hajjaj pun merobohkan bagian utaranya dan mengeluarkan al Hijr sebagaimana yang telah dibangun orang-orang Quraisy serta menjadikan ka\u2019bah memiliki satu pintu saja yang lebih ditinggikan serta menutup pintu yang lainnya. Tatkala Abdul Malik bin Marwan mendapatkan hadits Aisyah maka ia pun menyesali perbuatannya sehingga mengatakan,\u201dKami sangat berkeinginan mengembalikan seperti orang yang membangun sebelumnya.\u201d Maksudnya Abdullah bin Zubeir. Lalu ia pun bermusyawarah dengan Imam Malik dalam permasalahan ini dan beliau pun mencegahnya agar kemuliaan ka\u2019bah tidak lenyap. Dan dikahwatatirkan setiap raja akan melakukan perobohan sebagaimana yang dilakukan orang-orang sebelumnya sehingga dapat menodai kehormatan ka\u2019bah. <strong>7. Pada masa Kekhilafahan Utsmani tahun 1040 H.<\/strong> Tatkala Mekah dilanda banjir besar yang menenggalamkan Masjidil Haram maka Muhammad Ali Pasya\u2014Gubernur Mesir saat itu\u2014memerintahkan para arsiteknya yang ahli dan para pekerjanya agar merobohkan ka\u2019bah dan merenovasi kembali. Pembangunan itu memakan waktu setengah tahun penuh dan memakan biaya yang sangat mahal hingga rampung pembangunannya. Demikianlah awal mula pembangunan ka\u2019bah hingga hari ini yang tetap kokoh dan menggetarkan setiap orang yang melihatnya dan mengembalikan kebesarannya kepada ALLAH SWT\u00a0Yang Maha Agung lagi Maha Mulia. Dan apa yang anda tanyakan tentang adanya seekor ular di tempat awal mulanya akan dibangun ka\u2019bah maka telah disinggug di atas yaitu terjadi pada masa Ibrahim dan Ismail as, sebagaimana yang dikatakan Imam As Suddiy. Wallahu A\u2019lam bishawab.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ka\u2019bah adalah kiblat seluruh kaum muslimin dunia yang menjadi simbol kesatuan mereka dibawah ikatan tauhid dan keimanan kepada ALLAH SWT.\u00a0Ka\u2019bah adalah bangunan pertama di bumi, sebagaimana firman ALLAH SWT\u00a0(QS. 3 : 96) Bantahan terhadap pengakuan Ahli Kitab tentang rumah ibadah yang pertama 96. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang &hellip; <\/p>\n<p><a class=\"more-link btn\" href=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/asal-usul-pendirian-kabah\/\">Continue reading<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4,5,12,13],"class_list":["post-27","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-akhirat","tag-kabah","tag-kaaba","tag-mecca","tag-mekkah","item-wrap"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27"}],"version-history":[{"count":21,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3807,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27\/revisions\/3807"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}