{"id":1385,"date":"2012-10-21T16:11:18","date_gmt":"2012-10-21T09:11:18","guid":{"rendered":"http:\/\/berilmu.com\/blog\/?p=1385"},"modified":"2020-05-04T21:45:49","modified_gmt":"2020-05-04T14:45:49","slug":"penentuan-jadwal-shalat-fardhu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/penentuan-jadwal-shalat-fardhu\/","title":{"rendered":"Penentuan Jadwal Shalat Fardhu"},"content":{"rendered":"<p>Dari sudut\u00a0pandang Fiqih\u00a0penentuan waktu shalat fardhu seperti dinyatakan di dalam kitab-kitab fiqih\u00a0adalah sebagi berikut :<\/p>\n<p><strong>Waktu Sub<\/strong><strong>uh<\/strong>\u00a0\u00a0\u00a0Waktunya diawali saat<em>\u00a0Fajar Sh<\/em><em>id<\/em><em>diq\u00a0<\/em>sampai matahari\u00a0terbit (syuruk).\u00a0<em>Fajar Shiddiq<\/em>\u00a0ialah terlihatnya cahaya putih yang\u00a0melintang\u00a0\u00a0mengikut garis lintang ufuk\u00a0di sebelah Timur akibat pantulan cahaya matahari oleh atmosfer.\u00a0Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya samar yang menjulang tinggi (vertikal) di horizon Timur yang disebut\u00a0<em>Fajar Kidzib<\/em>\u00a0atau\u00a0<em>Fajar Semu<\/em>\u00a0yang terjadi akibat pantulan cahaya matahari oleh debu partikel antar planet yang terletak antara Bumi dan\u00a0Matahari.\u00a0Setelah cahaya ini muncul beberapa menit kemudian cahaya ini\u00a0hilang dan langit gelap kembali. Saat berikutnya barulah muncul cahayamenyebar di cakrawala secara horizontal, dan inilah dinamakan Fajar Shiddiq. Secara astronomis Subuh dimulai saat kedudukan matahari\u00a0 (\u00a0s\u00b0\u00a0) sebesar 18\u00b0 di bawah horizon Timur\u00a0atau disebut dengan \u201castronomical twilight\u201d\u00a0\u00a0sampai sebelum piringan atas matahari menyentuh horizon yang terlihat (ufuk\u00a0Hakiki\u00a0\/ visible horizon). Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria sudut\u00a0 s=20\u00b0 dengan alasan kepekaan mata manusia lebih tinggi saat pagi hari karena perubahan terjadi dari gelap ke terang.<!--more--><br \/>\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\"\n     style=\"display:block\"\n     data-ad-format=\"fluid\"\n     data-ad-layout-key=\"-hj-w-i-42+h8\"\n     data-ad-client=\"ca-pub-3722339219833725\"\n     data-ad-slot=\"5402103677\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><br \/>\n<strong>Waktu\u00a0Zuhur<\/strong>\u00a0 Disebut juga waktu Istiwa (<em>zawaal<\/em>) terjadi ketika matahari berada di titik tertinggi. Istiwa juga dikenal dengan sebutan Tengah Hari (<em>midday<\/em>\/<em>noon<\/em>). Pada saat Istiwa, mengerjakan ibadah shalat (baik wajib maupun sunnah) adalah haram. Waktu Zuhur tiba sesaat setelah Istiwa, yakni ketika matahari telah condong ke arah Barat. Waktu tengah hari dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu. Secara astronomis, waktu Zuhur dimulai ketika tepi piringan matahari telah keluar dari garis zenith, yakni garis yang menghubungkan antara pengamat dengan pusat letak matahari ketika berada di titik tertinggi (Istiwa). Secara teoretis, antara Istiwa dengan masuknya Zuhur\u00a0( z\u00b0 )\u00a0membutuhkan waktu 2 menit, dan untuk faktor keamanan biasanya pada jadwal shalat waktu Zuhur adalah 4 menit setelah Istiwa terjadi atau z=1\u00b0.<\/p>\n<p><strong>Waktu As<\/strong><strong>har<\/strong>\u00a0 Menurut Mazhab Syafi\u2019i, Maliki, dan Hambali, waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda\u00a0<strong>melebihi<\/strong>\u00a0panjang benda itu sendiri. Sementara Madzab Imam Hanafi mendefinisikan waktu Ashar jika panjang bayang-bayang benda\u00a0<strong>dua kali melebihi<\/strong>\u00a0panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar dapat dihitung dengan algoritma tertentu yang menggunakan trigonometri tiga dimensi. Secara astronomis ketinggian matahari saat awal waktu Ashar dapat bervariasi tergantung posisi gerak tahunan matahari\/gerak musim. Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria waktu Ashar adalah saat panjang bayangan = panjang benda + panjang bayangan saat istiwa. Dengan demikian besarnya sudut tinggi matahari waktu Ashar ( a\u00b0 ) bervariasi dari hari ke hari.<\/p>\n<p><strong>Waktu Maghrib<\/strong>\u00a0\u00a0\u00a0Diawali saat matahari\u00a0terbenam di ufuk sampai\u00a0hilangnya\u00a0cahaya\u00a0merah\u00a0di langit Barat.Secara astronomis waktu maghrib dimulai saat seluruh piringan\u00a0 matahari masuk ke horizon \u00a0yang terlihat (ufuk Mar\u2019i \/ visible horizon) sampai waktu Isya yaitu saat kedudukan matahari\u00a0 sebesar i\u00b0\u00a0di bawah horizon Barat.\u00a0 Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria sudut\u00a0i=18\u00b0 di bawah horison Barat.<\/p>\n<p><strong>Waktu \u2018Isya<\/strong><strong>\u00a0\u00a0<\/strong>Diawali dengan hilangnya cahaya merah (<em>syafaq<\/em>) di langit Barat, hingga terbitnya Fajar Shiddiq di Langit Timur. Secara astronomis, waktu Isya\u00a0 merupakan kebalikan dari waktu Subuh yaitu dimulai saat kedudukan matahari\u00a0 sebesar\u00a0i\u00b0\u00a0di bawah horizon Barat sampai sebelum posisi matahari sebesar\u00a0s\u00b0\u00a0di bawah horizon Timur.<\/p>\n<p><strong>Waktu Imsak\u00a0\u00a0<\/strong><strong>\u00a0<\/strong>Diawali 10 menit sebelum Waktu Subuh dan berakhir saat Waktu Subuh. Ijtihad 10 menit adalah perkiraan waktu saat Rasulullah membaca Al Qur\u2019an sebanyak 50 ayat waktu itu. Untuk waktu Imsak ini saya kutipkan dari pelbagai sumber, karena ada pergeseran interpretasi akan tujuan imsak diadakan. Awal mula imsak diperkenalkan kepada masyarakat menurut saya sebagai peringatan bahwa sebentar lagi waktu sahur akan habis. Artinya pada saat imsak tersebut waktu sahur belum habis tetapi dihimbau untuk mengurangi aktivitas makan dan minum karena khawatir kebablasan. Layaknya lampu kuning pada traffic light, artinnya siap-siap sebentar lagi puasa dimulai. Namun seiring waktu berjalan imsak ini terasimilasi kedalam ranah payung hukum puasa dimana banyak yang memahami imsak sebagai waktu awal dimulainya berpuasa.<\/p>\n<p>Sampai saat ini masih banyak ditemukan orang yang berpegang teguh kepada pendapat bahwa imsak itu merupakan awal dimulainya ibadah puasa. Meraka akan menghindari makan dan minum setelah imsak meski waktu subuh belum datang karena akan membatalkan puasa mereka.<\/p>\n<p>Saya hanya mau menggaris bawahi bahwa masih banyak hal-hal yang berkenaan dengan ibadah namum minim informasi sehingga sering kali terjadi salah penafsiran di kalangan masyarakat, salah satunya imsak ini. Oleh karena itu pihak terkait harus bisa lebih memberikan informasi yang benar, akurat, dan lengkap ketika akan membuat dan mengeluarkan suatu aturan yang berfungsi untuk menunjang aktivitas tertentu agar bisa difahami sebagaimana mestinya.<\/p>\n<p>menahan diri dari makan dan minum adalah mulai terbitnya fajar (masuknya waktu shubuh). Dasarnya firman Allah Ta\u2019ala,<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0643\u064f\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0634\u0652\u0631\u064e\u0628\u064f\u0648\u0627 \u062d\u064e\u062a\u064e\u0651\u0649 \u064a\u064e\u062a\u064e\u0628\u064e\u064a\u064e\u0651\u0646\u064e \u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u062e\u064e\u064a\u0652\u0637\u064f \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0628\u0652\u064a\u064e\u0636\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u062e\u064e\u064a\u0652\u0637\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0633\u0652\u0648\u064e\u062f\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u062c\u0652\u0631\u0650<\/p>\n<p><em>\u201cDan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.\u201d<\/em>\u00a0(Qs. Al Baqarah: 187)<\/p>\n<p>Juga dasarnya adalah sabda Nabi\u00a0<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>,<\/p>\n<p>\u0627\u0644\u0641\u064e\u062c\u0652\u0631\u064f \u0641\u064e\u062c\u0652\u0631\u064e\u0627\u0646\u0650 \u060c \u0641\u064e\u062c\u0652\u0631\u064c \u064a\u064f\u062d\u0652\u0631\u064e\u0645\u064f \u0627\u0644\u0637\u064e\u0651\u0639\u064e\u0627\u0645\u064f \u0648\u064e\u062a\u064e\u062d\u0650\u0644\u064f\u0651 \u0641\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0644\u0627\u064e\u0629\u064f \u060c \u0648\u064e\u0641\u064e\u062c\u0652\u0631\u064c \u062a\u064f\u062d\u0652\u0631\u064e\u0645\u064f \u0641\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0644\u0627\u064e\u0629\u064f (\u0623\u064e\u064a\u0652 \u0635\u064e\u0644\u0627\u064e\u0629\u064f \u0627\u0644\u0635\u064f\u0651\u0628\u0652\u062d\u0650) \u0648\u064e\u064a\u064e\u062d\u0650\u0644\u064f\u0651 \u0641\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0637\u064e\u0651\u0639\u064e\u0627\u0645\u064f<\/p>\n<p><em>\u201cFajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat (yaitu shalat shubuh) dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).\u201d<\/em>(Diriwayatakan oleh Al Baihaqi dalam\u00a0<em>Sunan Al Kubro<\/em>\u00a0no. 8024 dalam \u201cPuasa\u201d, Bab \u201cWaktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa\u201d dan Ad Daruquthni dalam \u201cPuasa\u201d, Bab \u201cWaktu makan sahur\u201d no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam\u00a0<em>Bulughul Marom<\/em>)<\/p>\n<p>Dasarnya lagi adalah sabda Nabi\u00a0<em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>,<\/p>\n<p>\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0628\u0650\u0644\u0627\u064e\u0644\u0627\u064b \u064a\u064f\u0624\u064e\u0630\u0650\u0651\u0646\u064f \u0628\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0644\u064d \u0641\u064e\u0643\u064f\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0634\u0652\u0631\u064e\u0628\u064f\u0648\u0627 \u062d\u064e\u062a\u064e\u0651\u0649 \u064a\u064f\u0624\u064e\u0630\u0650\u0651\u0646\u064e \u0627\u0628\u0652\u0646\u064f \u0623\u064f\u0645\u0650\u0651 \u0645\u064e\u0643\u0652\u062a\u064f\u0648\u0645\u064d<\/p>\n<p><em>\u201cBilal biasa mengumandangkan adzan di malam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.\u201d<\/em>\u00a0(HR. Bukhari no. 623 dalam Adzan, Bab \u201cAdzan sebelum shubuh\u201d dan Muslim no. 1092, dalam Puasa, Bab \u201cPenjelasan bahwa mulainya berpuasa adalah mulai dari terbitnya fajar\u201d). Seorang periwayat hadits ini mengatakan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta dan beliau tidaklah mengumandangkan adzan sampai ada yang memberitahukan padanya\u00a0<em>\u201cWaktu shubuh telah tiba, waktu shubuh telah tiba.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Demi menjaga \u201ckeamanan\u201d terhadap jadwal waktu shalat yang biasanya diberlakukan untuk suatu kawasan tertentu, maka dalam hal ini setiap awal waktu shalat menggunakan kaidah \u201cihtiyati\u201d yaitu menambahkan beberapa menit dari waktu yang sebenarnya. Besarnya ihtiyati ini biasanya ditambahkan 2 menit di awal waktu shalat dan dikurangkan 2 menit sebelum akhir waktu shalat.<\/p>\n<p>Akibat pergerakan semu matahari 23,5\u00b0 ke Utara dan 23,5\u00b0 ke Selatan selama periode 1 tahun, waktu-waktu tersebut bergesar dari hari-kehari. Akibatnya saat waktu shalat juga mengalami perubahan. oleh sebab itulah jadwal waktu shalat disusun untuk kurun waktu selama 1 tahun dan dapat dipergunakan lagi pada tahun berikutnya. Selain itu posisi atau letak geografis serta ketinggian tempat juga mempengaruhi kondisi-kondisi tersebut di atas.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" title=\"waktushalat\" src=\"http:\/\/www.jadwalsholat.org\/wp-content\/uploads\/2011\/08\/waktushalat.jpg\" alt=\"Diagram Waktu Shalat\" width=\"540\" height=\"431\" \/><\/p>\n<p>Diagram Waktu Shalat berdasarkan posisi matahari<\/p>\n<p>Berdasarkan konsep waktu menggunakan posisi matahari secara astronomis para ahli kini berusaha membuat rumus waktu shalat berdasarkan letak geografis dan ketinggian suatu tempat di permukaan bumi dalam bentuk sebuah program komputer yang dapat menghasilkan sebuah tabulasi data secara akurat dalam sebuah \u201cJadwal Waktu Shalat\u201d. Kini software waktu shalat terus dibuat dan dikembangkan diantaranya: Accurate Times, Athan Software, Prayer Times, Mawaqit, Shalat Time dsb. serta software produksi BHR Departemen Agama yang disebarluaskan secara nasional yaitu Winhisab. Program ini masih terlalu sederhana untuk kelas Nasional dan saya yakin BHR bisa membuat yang lebih baik lagi.<\/p>\n<h2>Waktu Shalat Sunah<\/h2>\n<p>Tidak semua shalat sunah\u00a0mempunyai waktu tertentu melainkan beberapa shalat sunah sudah diatur waktunya. Waktu-waktunya adalah mengikuti\u00a0waktu shalat\u00a0yang dianjarkan\u00a0Nabi Muhammad s.a.w.\u00a0Diantara shalat sunahyang dilakukan mengikuti\u00a0waktu tertentu\u00a0adalah:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Shalat\u00a0Dhuha<\/strong>\u00a0&#8211; dilakukan ketika waktu matahari baru naik (mengikut pandangan\u00a0beberapa\u00a0ulama, pada ketinggian segalah atau tujuh hasta)\u00a0atau sekitar 3,5\u00b0\u00a0ketinggian Matahari.<\/li>\n<li><strong>Shalat\u00a0Ied<\/strong>\u00a0&#8211; dilakukan pada waktu pagi hari raya yang pertama bagi\u00a0kedu\u00a0jenis hari raya\u00a0tersebut, umumnya\u00a0dilakukan pada waktu\u00a0<strong>Dhuha<\/strong>\u00a0\u00a0yaitu\u00a0waktu matahari baru naik (mengikut pandangan\u00a0sebagianulama, pada ketinggian segalah)<\/li>\n<li><strong>Shalat\u00a0Tarawih<\/strong>\u00a0&#8211; dilakukan pada waktu Isya\u2019 (umumnya\u00a0dilakukan selepas Shalat\u00a0Isya\u2019 sebelum kemunculan waktu imsak)<\/li>\n<li><strong>Shalat\u00a0Sunat\u00a0Gerhana<\/strong>\u00a0&#8211; dilakukan pada waktu gerhana (matahari atau bulan)\u00a0sedang terjadi.<\/li>\n<li><strong>Shalat\u00a0Sunat\u00a0Rawatib<\/strong>\u00a0&#8211; dilakukan sebelum dan selepas solat fardhu. Tidak semua solat mempunyai kedua-dua solat sunat.<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Waktu Haram Shalat<\/h2>\n<p>Berikut adalah waktu yang diharamkan solat (sebagian ulama\u00a0mengatakan\u00a0berlaku\u00a0bagi selain tanah haram):<\/p>\n<ul>\n<li>Waktu selepas\u00a0shalat Subuh hingga terbit matahari.<\/li>\n<li>Waktu\u00a0mulai\u00a0terbit matahari (syuruk) hingga matahari berada di kedudukan pada kadar segalah (tujuh hasta).<\/li>\n<li>Waktu rambang (zawal, istiwa, rembah) atau waktu tengahari (matahari tegak) hingga gelincir matahari kecuali hari Jumaat.<\/li>\n<li>Waktu selepas shalat Asar hingga matahari kekuningan.<\/li>\n<li>Waktu matahari kekuningan hingga matahari terbenam.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sumber :\u00a0rukyatulhilal.org\/waktu-shalat\/index.html<br \/>\nDengan beberapa tambahan yang perlu ditambahkan terutama tentang waktu Imsak<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari sudut\u00a0pandang Fiqih\u00a0penentuan waktu shalat fardhu seperti dinyatakan di dalam kitab-kitab fiqih\u00a0adalah sebagi berikut : Waktu Subuh\u00a0\u00a0\u00a0Waktunya diawali saat\u00a0Fajar Shiddiq\u00a0sampai matahari\u00a0terbit (syuruk).\u00a0Fajar Shiddiq\u00a0ialah terlihatnya cahaya putih yang\u00a0melintang\u00a0\u00a0mengikut garis lintang ufuk\u00a0di sebelah Timur akibat pantulan cahaya matahari oleh atmosfer.\u00a0Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya samar yang menjulang tinggi (vertikal) di horizon Timur yang disebut\u00a0Fajar &hellip; <\/p>\n<p><a class=\"more-link btn\" href=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/penentuan-jadwal-shalat-fardhu\/\">Continue reading<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[517,516],"class_list":["post-1385","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-akhirat","tag-cara-menentukan-waktu-shalat","tag-cara-penentuan-jadwal-shalat-fardhu","item-wrap"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1385","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1385"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1385\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3255,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1385\/revisions\/3255"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1385"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1385"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1385"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}