{"id":1284,"date":"2009-03-30T16:43:31","date_gmt":"2009-03-30T16:43:31","guid":{"rendered":"http:\/\/berilmu.com\/blog\/?p=1284"},"modified":"2023-03-27T08:12:59","modified_gmt":"2023-03-27T01:12:59","slug":"peristiwa-terbunuhnya-amirul-mukminin-ali-bin-abi-thalib-penulis-al-imam-al-hafizh-ibnu-katsir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/peristiwa-terbunuhnya-amirul-mukminin-ali-bin-abi-thalib-penulis-al-imam-al-hafizh-ibnu-katsir\/","title":{"rendered":"Peristiwa Terbunuhnya Amirul Mukminin ALI BIN ABI THALIB (Penulis: al-Imam al-Hafizh IBNU KATSIR)"},"content":{"rendered":"<p>Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Iraq dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim penduduk Syam menyebut Mu\u2019awiyah sebagai amir. Seiring bertambahnya kekuatan penduduk Syam semakin lemah pula kedudukan penduduk Iraq. Padahal amir mereka adalah Ali bin Abi Thalib \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647. sebaik-baik manusia di atas muka bumi pada zaman itu, beliau yang paling taat, paling zuhud, paling alim dan paling takut kepada Allah. Namun walaupun demikian, mereka meninggalkannya dan membiarkannya seorang diri. Padahal Ali telah memberikan hadiah-hadiah yang melimpah dan harta-harta yang banyak. Begitulah perlakuan mereka terhadap beliau, hingga beliau tidak ingin hidup lebih lama dan mengharapkan kematian. Karena banyaknya fitnah dan merebaknya pertumpahan darah. Beliau sering berkata, \u201d Apakah gerangan yang menahan peristiwa yang dinanti-nanti itu? Mengapa ia belum juga terbunuh?\u201d Kemudian beliau berkata, \u201cDemi Allah, aku akan mewarnai ini sembari menunjuk jenggot beliau- dari sini!\u201d -sembari menunjuk kepala beliau-.54<!--more--><br \/>\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block; text-align: center;\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-3722339219833725\" data-ad-slot=\"1935354156\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><br \/>\n<a href=\"http:\/\/www.facebook.com\/PutoZone\/photos\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-716\" title=\"PutoZone Toko Online Serba Murah\" src=\"http:\/\/berilmu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/anigif.gif\" alt=\"Assalamu'alaikum, Welcome to PutoZone, Toko Online Serba Murah, terima kasih sudah berkunjung di Berilmu.com\" width=\"700\" height=\"166\" srcset=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/anigif.gif 700w, https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/anigif-300x71.gif 300w, https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/anigif-500x118.gif 500w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/a><br \/>\n<strong>*Kronologis Terbunuhnya Ali\u00a0<\/strong><strong>\u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647<\/strong><\/p>\n<p>Ibnu Jarir dan pakar-pakar sejarah lainnya55\u00a0menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij berkumpul, mereka adalah Abdurrahman bin Amru yang dikenal dengan sebutan Ibnu Muljam al-Himyari al-Kindi sekutu Bani Jabalah dari suku Kindah al-Mishri, al-Burak bin Abdillah at-Tamimi dan Amru bin Bakr at-Tamimi.56\u00a0Mereka mengenang kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat buat teman-teman mereka itu. Mereka berkata, \u201cApa yang kita lakukan sepeninggal mereka? Mereka adalah sebaik-baik manusia dan yang paling banyak shalatnya, mereka adalah penyeru manusia kepada Allah. Mereka tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela dalam menegakkan agama Allah. Bagaimana kalau kita tebus diri kita lalu kita datangi pemimpin-pemimpin yang sesat itu kemudian kita bunuh mereka sehingga kita membebaskan negara dari kejahatan mereka dan kita dapat membalas dendam atas kematian teman-teman kita.\u201d<\/p>\n<p>Ibnu Muljam berkata, \u201cAku akan menghabisi Ali bin Abi Thalib!\u201d<\/p>\n<p>Al-Burak bin Abdillah berkata, \u201cAku akan menghabisi Mu\u2019awiyah bin Abi Sufyan.\u201d<\/p>\n<p>Amru bin Bakr berkata, \u201cAku akan menghabisi Amru bin al-Ash.\u201d<\/p>\n<p>Merekapun berikrar dan mengikat perjanjian untuk tidak mundur dari niat semula hingga masing-masing berhasil membunuh targetnya atau terbunuh. Merekapun mengambil pedang masing-masing sambil menyebut nama sahabat yang menjadi targetnya. Mereka sepakat melakukannya serempak pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Kemudian ketiganya berangkat menuju tempat target masing-masing.<\/p>\n<p>Adapun Ibnu Muljam berangkat ke Kufah. Setibanya di sana ia menyembunyikan identitas, hingga terhadap teman-temannya dari kalangan Khawarij yang dahulu bersamanya. Ketika ia sedang duduk-duduk bersama beberapa orang dari Bani Taim ar-Ribab, mereka mengenang teman-teman mereka yang terbunuh pada peperangan Nahrawan. Tiba-tiba datanglah seorang wanita bernama Qatham binti Asy-Syijnah, ayah dan abangnya dibunuh oleh Ali pada peperangan Nahrawan. Ia adalah wanita yang sangat cantik dan populer. Dan ia telah mengkhususkan diri beribadah dalam masjid jami\u2019. Demi melihatnya Ibnu Muljam mabuk kepayang. Ia lupa tujuannya datang ke Kufah. Ia meminang wanita itu. Qatham mensyaratkan mahar tiga ribu dirham, seorang khadim, budak wanita dan membunuh Ali bin Abi Thalib untuk dirinya. Ibnu Muljam berkata, \u201cEngkau pasti mendapatkannya, demi Allah tidaklah aku datang ke kota ini melainkan untuk membunuh Ali.\u201d<\/p>\n<p>Lalu Ibnu Muljam menikahinya dan berkumpul dengannya. Kemudian Qathami mulai mendorongnya untuk melaksanakan tugasnya itu. Ia mengutus seorang lelaki dari kaumnya bernama Wardan, dari Taim Ar-Ribab, untuk menyertainya dan melindunginya. Lalu Ibnu Muljam juga menggaet seorang lelaki lain bernama Syabib bin Bajrah al-Asyja\u2019i al-Haruri. Ibnu Muljam berkata kepadanya, \u201cMaukah kamu memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat?\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa itu?\u201d Tanyanya.<\/p>\n<p>\u201cMembunuh Ali!\u201d Jawab Ibnu Muljam.<\/p>\n<p>Ia berkata, \u201cCelaka engkau, engkau telah mengatakan perkara yang sangat besar! Bagaimana mungkin engkau mampu membunuhnya?\u201d<\/p>\n<p>Ibnu Muljam berkata, \u201cAku mengintainya di masjid, apabila ia keluar untuk mengerjakan shalat subuh, kita mengepungnya dan kita membunuhnya. Apabila berhasil maka kita merasa puas dan kita telah membalas dendam. Dan bila kita terbunuh maka apa yang tersedia di sisi Allah lebih baik dari-pada dunia.\u201d<\/p>\n<p>Ia berkata, \u201cCelaka engkau, kalaulah orang itu bukan Ali tentu aku tidak keberatan melakukannya, engkau tentu tahu senioritas beliau dalam Islam dan kekerabatan beliau dengan Rasulullah \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645. Hatiku tidak terbuka untuk membunuhnya.\u201d<\/p>\n<p>Ibnu Muljam berkata, \u201cBukankah ia telah membunuh teman-teman kita di Nahrawan?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBenar!\u201d jawabnya.<\/p>\n<p>\u201cMarilah kita bunuh ia sebagai balasan bagi teman-teman kita yang telah dibunuhnya\u201d kata Ibnu Muljam.<\/p>\n<p>Beberapa saat kemudian Syabib menyambutnya.<\/p>\n<p>Masuklah bulan Ramadhan. Ibnu Muljam membuat kesepakatan dengan teman-temannya pada malam Jum\u2019at 17 Ramadhan. Ibnu Muljam berkata, \u201cMalam itulah aku membuat kesepakatan dengan teman-temanku untuk membunuh target masing-masing. Lalu mulailah ketiga orang ini bergerak, yakni Ibnu Muljam, Wardan dan Syabib, dengan menghunus pedang masing-masing. Mereka duduk di hadapan pintu57\u00a0yang mana Ali biasa keluar dari-nya. Ketika Ali keluar, beliau membangunkan orang-orang untuk shalat sembari berkata, \u201cShalat\u2026.shalat!\u201d Dengan cepat Syabib menyerang dengan pedang-nya dan memukulnya tepat mengenai leher beliau. Kemudian Ibnu Muljam menebaskan pedangnya ke atas kepala beliau.58\u00a0Darah beliau mengalir membasahi jenggot beliau \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647. Ketika Ibnu Muljam menebasnya, ia berkata, \u201cTidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!\u201d Ia membaca firman Allah:<\/p>\n<p><strong>\u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0627\u0633\u0650 \u0645\u064e\u0646 \u064a\u064e\u0634\u0652\u0631\u0650\u064a \u0646\u064e\u0641\u0652\u0633\u064e\u0647\u064f \u0627\u0628\u0652\u062a\u0650\u063a\u064e\u0627\u0621 \u0645\u064e\u0631\u0652\u0636\u064e\u0627\u062a\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u064f \u0631\u064e\u0624\u064f\u0648\u0641\u064c \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0639\u0650\u0628\u064e\u0627\u062f\u0650<\/strong><\/p>\n<p><em>\u201cDan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.\u201d<\/em>\u00a0(Al-Baqarah: 207).<\/p>\n<p>Ali berteriak, \u201cTangkap mereka!\u201d<\/p>\n<p>Adapun Wardan melarikan diri namun berhasil dikejar oleh seorang lelaki dari Hadhramaut lalu membunuhnya. Adapun Syabib, berhasil menyelamatkan diri dan selamat dari kejaran manusia. Sementara Ibnu Muljam berhasil ditangkap.<\/p>\n<p>Ali menyuruh Ja\u2019dah bin Hubairah bin Abi Wahab59\u00a0untuk mengimami Shalat Fajar. Ali pun dibopong ke rumahnya. Lalu digiring pula Ibnu Muljam kepada beliau dan dibawa kehadapan beliau dalam keadaan dibelenggu tangannya ke belakang pundak, semoga Allah memburukkan rupanya. Ali berkata kepadanya,\u201d Apa yang mendorongmu melakukan ini?\u201d Ibnu Muljam berkata, \u201cAku telah mengasah pedang ini selama empat puluh hari. Aku memohon kepada Allah agar aku dapat membunuh dengan pedang ini makhlukNya yang paling buruk!\u201d<\/p>\n<p>Ali berkata kepadanya, \u201cMenurutku engkau harus terbunuh dengan pedang itu. Dan menurutku engkau adalah orang yang paling buruk.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian beliau berkata, \u201cJika aku mati maka bunuhlah orang ini, dan jika aku selamat maka aku lebih tahu bagaimana aku harus memperlakukan orang ini!\u201d<\/p>\n<p><strong>* Pemakaman Jenazah Ali bin Abi Thalib\u00a0<\/strong><strong>\u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647<\/strong><\/p>\n<p>Setelah Ali \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 wafat, kedua puteranya yakni al-Hasan dan al-Husein memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdullah bin Ja\u2019far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putera tertua beliau, yakni al-Hasan. Al-Hasan bertakbir sebanyak sembilan kali.60<\/p>\n<p>Jenazah beliau dimakamkan di Darul Imarah di Kufah, karena kekhawatiran kaum Khawarij akan membongkar makam beliau. Itulah yang masyhur. Adapun yang mengatakan bahwa jenazah beliau diletakkan di atas kendaraan beliau kemudian dibawa pergi entah ke mana perginya maka sungguh ia telah keliru dan mengada-ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Akal sehat dan syariat tentu tidak membenarkan hal semacam itu. Adapun keyakinan mayoritas kaum Rafidhah yang jahil bahwa makam beliau terletak di tempat suci Najaf, maka tidak ada dalil dan dasarnya sama sekali. Ada yang mengatakan bahwa makam yang terletak di sana adalah makam al-Mughirah bin Syu\u2019bah \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 .<\/p>\n<p>Al-Khathib al-Baghdadi61meriwayatkan dari al-Hafizh Abu Nu\u2019aim dari Abu Bakar Ath-Thalahi dari Muhammad bin Abdillah al-Hadhrami al-Hafizh Muthayyin, bahwa ia berkata, \u201cSekiranya orang-orang Syi\u2019ah mengetahui makam siapakah yang mereka agung-agungkan di Najaf niscaya mereka akan lempari dengan batu. Sebenarnya itu adalah makam al-Mughirah bin Syu\u2019bah62\u2033<\/p>\n<p>Al-Hafizh Ibnu Asakir63\u00a0meriwayatkan dari al-Hasan bin Ali, ia berkata, \u201cAku mengebumikan jenazah Ali di kamar sebuah rumah milik keluarga ja\u2019dah.\u201d<\/p>\n<p>Abdul Malik bin Umair64\u00a0bercerita, \u201cKetika Khalid bin Abdullah menggali pondasi di rumah anaknya bernama Yazid, mereka menemukan jenazah seorang Syaikh yang terkubur di situ, rambut dan jenggotnya telah memutih. Seolah jenazah itu baru dikubur kemarin. Mereka hendak membakarnya, namun Allah memalingkan niat mereka itu. Mereka membungkusnya dengan kain Qubathi, lalu diberi wewangian dan dibiarkan terkubur di tempat semula. Tempat itu berada dihadapan pintu al-Warraqin setelah kiblat masjid di rumah tukang sepatu. Hampir tidak pernah seorang pun bertahan di tempat itu melainkan pasti akan pindah dari situ.<\/p>\n<p>Diriwayatkan dari Ja\u2019far bin Muhammad ash-Shadiq, ia berkata, \u201cJenazah Ali dishalatkan pada malam hari dan dimakamkan di Kufah, tem-patnya sengaja dirahasiakan, namun yang pasti di dekat gedung imarah (istana kepresidenan).\u201d\u00a065<\/p>\n<p>Ibnu Kalbi66berkata, \u201cTurut mengikuti proses pemakaman jenazah Ali pada malam itu al-Hasan, al-Husain, Ibnul Hanafiyyah, Abdullah bin Ja\u2019far dan keluarga ahli bait beliau yang lainnya. Mereka memakamkannya di dalam kota Kufah, mereka sengaja merahasiakan makam beliau karena kekhawatiran terhadap kebiadaban kaum Khawarij dan kelompok-kelompok lainnya.<\/p>\n<p><strong>* Tanggal Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib\u00a0<\/strong><strong>\u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647<\/strong><strong>\u00a0dan Usia Beliau<\/strong><\/p>\n<p>Ali \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 , terbunuh pada malam Jum\u2019at waktu sahur pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Ada yang mengatakan pada bulan Rabi\u2019ul Awwal. Namun pendapat pertama lebih shahih dan populer.<\/p>\n<p>Ali \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 ditikam pada hr Jum\u2019at 17 Ramadhan tahun 40 H, tanpa ada perselisihan.67<\/p>\n<p>Ada yang mengatakan beliau wafat pada hari beliau ditikam, ada yang mengatakan pada hari Ahad tanggal 19 Ramadhan.<\/p>\n<p>Al-Fallas berkata, \u201cAda yang mengatakan, beliau ditikam pada malam dua puluh satu Ramadhan dan wafat pada malam dua puluh empat dalam usia 58 atau 59 tahun.\u201d\u00a068<\/p>\n<p>Ada yang mengatakan, wafat dalam usia 63 tahun.69\u00a0Itulah pendapat yang masyhur, demikian dituturkan oleh Muhammad bin al-Hanafiyah, Abu Ja\u2019far al-Baqir, Abu Ishaq as-Sabi\u2019i dan Abu Bakar bin \u2018Ayasy. Sebagian ulama lain mengatakan, wafat dalam usia 63 atau 64 tahun. Diriwayatkan dari Abu ja\u2019far al-Baqir, katanya, \u201cWafat dalam usia 65 tahun.\u201d<\/p>\n<p>Masa kekhalifahan Ali lima tahun kurang tiga bulan. Ada yang mengatakan empat tahun sembilan bulan tiga hari. Ada yang mengatakan empat tahun delapan bulan dua puluh tiga hari, semoga Allah meridhai beliau.70<\/p>\n<p>_______________________________________________________________________________________________<\/p>\n<p>54\u00a0Rasulullah \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645. telah mengabarkan bahwa Ali \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 akan mati terbunuh seperti yang disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad, 1\/102-130-156 dan kitab Dala\u2019il an-Nubuwwah karangan al-Baihaqi, 6\/438 dengan sanad shahih seperti yang dikatakan oleh Ahmad Syakir.<\/p>\n<p>55\u00a0Silahkan lihat Tarikh ath-Thabari, 5\/143-146, ath-Thabaqat karangan Ibnu Sa\u2019ad, 3\/36-37, al-Muntazham, 5\/172-173, al- Kamil, 3\/388-389 dan Tarikh Islam juz Khulafaur Rasyidin halaman 607-608.<\/p>\n<p>56\u00a0Dalam kitab ath-Thabaqat Ibnu Sa\u2019ad disebutkan bahwa mereka berkumpul di Makkah.<\/p>\n<p>57\u00a0As-Suddah adalah pintu rumah dan atap yang menutupi pintu rumah, atau pekarangan di depan rumah, lihat kamus al-Wasith.<\/p>\n<p>58\u00a0Qarnul insan, adalah bagian atas kepala. Silakan lihat kamus Muhith.<\/p>\n<p>59\u00a0Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam al-Ishabah, 1\/484 dan 527, dan menyebutkan kontroversi tentang statusnya apakah termasuk sahabat atau bukan. Ibunya adalah Ummu Hani\u2019 binti Abi Thalib, berarti Ali adalah pamannya.<\/p>\n<p>60\u00a0Dalam sejumlah riwayat lainnya disebutkan empat kali takbir, barangkali itulah yang benar, silakan lihat ath-Thabaqat al-Kubra, 3\/38.<\/p>\n<p>61\u00a0Tarikh Baghdad, 1\/138.<\/p>\n<p>62\u00a0Karena mereka sangat membenci al-Mughirah bin Syu\u2019bah \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647, pent.<\/p>\n<p>63\u00a0Tarikh Dimasyq, 12\/420.<\/p>\n<p>64\u00a0Silahkan lihat Tarikh Baghdad, 1\/137.<\/p>\n<p>65\u00a0Silatrkan lihat Tarikh Islam karangan Adz-Dzahabi juz Khulafaur Rasyidin halaman 650.<\/p>\n<p>66\u00a0Silakan lihat Tarikh Dimasyq, 12\/421.<\/p>\n<p>67\u00a0Perkataan beliau, \u201cTanpa ada perselisihan,\u201d maksudnya tahunnya, adapun bulan dan tanggalnya telah terjadi perselisihan di dalamnya.<\/p>\n<p>68\u00a0Silakan lihat Tarikh ath-Thabari, 5\/151.<\/p>\n<p>69\u00a0Ibnu Sa\u2019ad menukil dalam kitab ath-Thabaqat, 3\/381 dari al-Waqidi bahwasanya ia berkata, \u201cItulah pendapat yang shahih menurut kami.\u201d Saya katakan, Ini bersesuaian dengan pendapat yang mengatakan bahwa tahun kelahirannya adalah dua puluh tahun sebelum Rasulullah \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 diangkat menjadi rasul.<\/p>\n<p>70\u00a0Silakan lihat Tarikh ath-Thabari, 5\/152-153, demikian pula Tarikh Dimasyq, 12\/423 dan 428. Pendapat-pendapat ini saling berdekatan, perbedaan antara pendapat pertama, kedua dan ketiga didasarkan atas perbedaan penentuan tanggal pembai\u2019atan beliau dan tanggal wafat beliau setelah ditikam.<\/p>\n<p><strong>Disalin dari :\u062a\u0631\u062a\u064a\u0628 \u0648\u062a\u0647\u0630\u064a\u0628 \u0643\u062a\u0627\u0628 \u0627\u0644\u0628\u062f\u0627\u064a\u0629 \u0648\u0627\u0644\u0646\u0647\u0627\u064a\u0629<\/strong><\/p>\n<p><strong>Judul Asli: Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah<\/strong><\/p>\n<p><strong>Penulis: al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pennyusun: Dr.Muhammad bin Shamil as-Sulami<\/strong><\/p>\n<p><strong>Penerbit: Dar al-Wathan, Riyadh KSA. Cet.I (1422 H.\/2002 M)<\/strong><\/p>\n<p><strong>Edisi Indonesia: Al-Bidayah wan-Nihayah Masa Khulafa\u2019ur Rasyidin<\/strong><\/p>\n<p><strong>Penerjemah: Abu Ihsan al-AtsariMuraja\u2019ah: Ahmad Amin Sjihab, LcPenerbit: Darul Haq, Cetakan I (Pertama) Dzulhijjah 1424 H\/ Pebruari 2004 M.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Iraq dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim penduduk Syam menyebut Mu\u2019awiyah sebagai amir. Seiring bertambahnya kekuatan &hellip; <\/p>\n<p><a class=\"more-link btn\" href=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/peristiwa-terbunuhnya-amirul-mukminin-ali-bin-abi-thalib-penulis-al-imam-al-hafizh-ibnu-katsir\/\">Continue reading<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[571,570,569],"class_list":["post-1284","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-akhirat","tag-kronologis-terbunuhnya-ali-bin-abi-thalib","tag-peristiwa-terbunuhnya-ali-bin-abi-thalib","tag-peristiwa-terbunuhnya-amirul-mukminin-ali-bin-abi-thalib","item-wrap"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1284","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1284"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1284\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3797,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1284\/revisions\/3797"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1284"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1284"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}