{"id":1273,"date":"2009-03-30T16:31:21","date_gmt":"2009-03-30T16:31:21","guid":{"rendered":"http:\/\/berilmu.com\/blog\/?p=1273"},"modified":"2023-03-27T08:11:49","modified_gmt":"2023-03-27T01:11:49","slug":"kisah-terbunuhnya-umar-bin-khattab-penulis-al-imam-al-hafizh-ibnu-katsir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/kisah-terbunuhnya-umar-bin-khattab-penulis-al-imam-al-hafizh-ibnu-katsir\/","title":{"rendered":"Kisah terbunuhnya UMAR BIN KHATTAB (Penulis: al-Imam al-Hafizh IBNU KATSIR)"},"content":{"rendered":"<p>Ringkasnya, ketika Umar selesai melaksanakan ibadah haji pada tahun 23 H beliau sempat berdoa kepada Allah di Abthah, mengadu kepada Allah tentang usianya yang telah senja, kekuatannya telah melemah, sementara rakyatnya tersebar luas dan la takut tidak dapat menjalankan tugas dengan sempurna. Ia berdoa kepada Allah agar Allah mewafatkannya31\u00a0dan berdoa agar Allah memberikan syahadah (mati syahid) serta dimakamkan di negeri hijrah (yaitu Madinah, sebagaimana yang terdapat dalam shahih Muslim bahwa Umar pernah berkata, \u201cYa Allah, aku bermohon kepadamu mendapatkan syahadah (mati syahid) di atas jalanMu dan wafat di tanah NabiMu.\u201d32<!--more--><br \/>\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block; text-align: center;\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-3722339219833725\" data-ad-slot=\"1935354156\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><br \/>\nMaka Allah mengabulkan doanya ini dan memberikan kedua permohonannya tersebut, yaitu mati syahid di Madinah. Ini adalah perkara yang sulit namun Allah Maha lembut kepada hambaNya. Akhirnya beliau ditikam oleh Abu Lu\u2019lu\u2019ah Fairuz -seorang yang aslinya beragama Majusi dan tinggal di Romawi-33\u00a0ketika Umar shalat di mihrab pada waktu Subuh hari Rabu tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 H dengan belati yang memiliki dua mata. Abu Lu\u2019lu\u2019ah menikamnya tiga tikaman -ada yang mengatakan enam tikaman- satu di bawah pusarnya hingga terputus urat-urat dalam perut beliau34akhirnya Umar jatuh tersungkur dan menyuruh Abdurrahman bin Auf agar menggantikannya menjadi imam shalat. Kemudian orang kafir itu (Abu Lu\u2019lu\u2019ah) berlari ke belakang, sambil menikam seluruh orang yang dilaluinya. Dalam peristiwa itu sebanyak 13 orang terluka dan 6 orang dari mereka tewas.35<\/p>\n<p>Maka segera Abdullah bin Auf36\u00a0menangkapnya dengan melemparkan burnus (baju panjang yang memiliki penutup kepala, pent.) untuk menjeratnya, kemudian Abu Lu\u2019lu\u2019ah bunuh diri, semoga Allah melaknatnya. Waktu itu Umar segera dibawa ke rumahnya sementara darah mengalir deras dari luka-lukanya. Hal itu terjadi sebelum matahari terbit. Umar berkali-kali jatuh pingsan dan sadar, kemudian orang-orang mengingatkannya shalat, beliau sadar sambil berkata, \u201cYa aku akan shalat dan tidak ada bagian dari Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.\u201d Kemudian beliau shalat, setelah shalat beliau bertanya siapa yang menikamnya?\u201d Mereka menjawab, \u201cAbu Lu\u2019lu\u2019ah budak al-Mughirah bin Syu\u2019bah.\u201d Beliau berkata, \u201cAlhamdulillah yang telah menentukan kematianku di tangan seseorang yang tidak beriman dan tidak pernah sujud kepada Allah sekalipun\u201d.<\/p>\n<p>Kemudian Umar berkata, \u201cSemoga Allah memberikan kejelekan baginya, kami telah menyuruhnya suatu perkara yang baik. Al-Mughirah memberinya gaji sebanyak dua dirham per hari, kemudian la menuntut Umar agar gaji budaknya itu ditambah karena budaknya memiliki banyak keahlian dan merangkap beberapa profesi, yaitu sebagai tukang kayu, pemahat dan tukang besi, maka Umar menaikkan gajinya menjadi100 dirham perbulan. Umar berkata padanya, \u201cKami dengar bahwa dirimu mampu membuat penumbuk gandum yang berputar di udara (kincir)?\u201d Abu Lu\u2019lu\u2019ah menjawab, Demi Allah aku akan memberitahukan kepadamu tentang penumbuk gandum yang akan menjadi pembicaraan manusia di timur dan barat -percakapan ini terjadi pada hari selasa di malam hari- dan ternyata dia menikamnya tepat pada hari Rabu di pagi hari pada 25 Dzulhijjah. Kemudian Umar mewasiatkan agar penggantinya yang menjadi Khalifah dimusyawarahkan oleh enam orang yang Rasulullah wafat dalam keadaan ridha kepada mereka, yaitu, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa\u2019ad bin Abi Waqqash \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647\u0645. Beliau tidak menyebutkan Sa\u2019id bin Zaid bin Amr bin Nufail al-Adawi, sebab Sa\u2019id berasal dari kabilah Umar dan dikhawatirkan kelak dirinya terpilih disebabkan kekerabatannya yang dekat dengan Umar. Umar mewasiatkan kepada siapa yang akan menggantikannya untuk berbuat yang terbaik kepada seluruh manusia dengan berbagai macam tingkatan mereka.<\/p>\n<p>Akhirnya Umar wafat tiga hari setelah peristiwa itu, beliau dikebumikan pada hari Ahad di awal bulan Muharram tahun 24 H dan dikebumikan di Kamar Nabi di samping Abu Bakar ash-Shiddiq, setelah mendapat izin dari Ummul Mukminin \u2018Aisyah \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647\u0645.<\/p>\n<p>Al-Waqidi \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 berkata, \u201cAku diberitahukan oleh Abu Bakar bin Ismail bin Muhammad bin Sa\u2019ad dari ayahnya dia berkata, \u2018Umar ditikam pada hari Rabu 25 Dzulhijjah tahun 23 H. Masa kepemimpinannya selama 10 tahun 5 bulan 21 malam, sementara pelantikan Utsman terjadi pada hari senin pada tanggal 3 Muharram, ketika aku sebutkan hal ini pada Utsman bin Akhnas, dia berkata, \u2018Engkau keliru\u2019. Umar wafat 25 Dzulhijjah dan Utsman dilantik pada malam terakhir dari bulan Dzulhijjah. Dengan demikian, ia memulai kekhalifahannya pada awal bulan Muharram tahun 24 H.\u201d37<\/p>\n<p>Abu Ma\u2019syar berkata, \u201cUmar Terbunuh pada tanggal 25 bulan Dzulhijjah tepat di penghujung tahun 23 H. Masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan 4 hari. Setelah itu Utsman dibai\u2019at38\u00a0menjadi khalifah.<\/p>\n<p>Ibnu Jarir berkata, \u201cAku diberitahukan oleh Hisyam bin Muhammad dia berkata, \u2018Umar terbunuh pada tanggal 23 bulan Dzulhijjah dan masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan dan empat hariL\u201d39<\/p>\n<p><strong>* Riwayat Al-Bukhari Tentang Peristiwa Terbunuhnya Umar\u00a0<\/strong><strong>\u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647<\/strong><\/p>\n<p>Al-Bukhari berkata, \u201cKami diberitahukan oleh Musa bin Ismail, dia berkata, kami diberitahukan oleh Abu \u2018Awanah dari Husain dan Amru bin Maimun, dia berkata, aku pernah melihat Umar bin al-Khaththab beberapa hari sebelum dirinya terbunuh, di Madinah sedang berbicara kepada Hudzaifah bin al-Yaman dan Utsman bin Hunaif, ia berkata, \u2018Apa yang telah kalian perbuat? Apakah kalian takut telah membebani pajak bumi yang memberatkan dan tidak sanggup dibayar pemiliknya?\u2019 Keduanya menjawab, \u2018Kami membebani pajak bumi dengan sepantasnya, tidak terlalu banyak.\u2019 Umar berkata, \u2018Hendaklah kalian berdua meninjau ulang, jangan-jangan kalian telah membebani pajak bumi yang tidak sanggup dipikul oleh para pemiliknya. Keduanya berkata, \u2018Tidak.\u2019 Umar melanjutkan, \u2018Jika Allah masih memberikan kepadaku umur yang panjang, maka akan aku tinggalkan para janda-janda di Irak dalam keadaan tidak lagi membutuhkan para pria setelah aku wafat\u2019.<\/p>\n<p>Empat hari setelah itu beliau terbunuh. Amru bin Maimun berkata, \u201cPada pagi terbunuhnya Umar aku berdiri dekat sekali dengan Umar. Penghalang antara aku dan beliau hanyalah Abdullah bin Abbas. Kebiasaannya jika beliau berjalan di sela-sela shaf beliau selalu berkata, \u2018Luruskan!\u2019 Setelah melihat barisan telah rapat dan lurus beliau maju dan mulai bertakbir. Pada waktu itu mungkin beliau sedang membaca surat Yusuf atau an-Nahl ataupun surat yang lainnya pada rakaat pertama hingga seluruh jama\u2019ah hadir berkumpul. Ketika beliau bertakbir tiba-tiba aku mendengar beliau menjerit, \u2018Aku dimakan anjing (aku ditikam).<\/p>\n<p>Ternyata beliau ditikam oleh seorang budak, kemudian budak kafir itu lari dengan membawa pisau belati bermata dua. Setiap kali melewati orang-orang dia menikamkan belatinya ke kanan maupun kiri hingga menikam 13 orang kaum muslimin dan 7 di antara mereka tewas. Ketika salah seorang dari kaum muslimin melihat peristiwa itu ia melemparkan burnus (baju berpenutup kepala) untuk menangkapnya. Ketika budak kafir itu yakin bahwa dia akan tertangkap dia langsung bunuh diri. Umar segera menarik tangan Abdurrahman dan meyuruhnya maju menjadi imam. Siapa saja yang berdiri di belakang Umar pasti akan melihat apa yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berada di sudut-sudut masjid, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi hanya saja mereka tidak lagi mendengar suara Umar, di antara mereka ada\u00a0 yang mengatakan,<em>\u00a0\u2018Subhanallah\u2019<\/em>.<\/p>\n<p>Maka akhirnya Abdurrahman yang menjadi imam shalat mereka dan ia sengaja memendekkan shalat. Selesai orang-orang mengerjakan shalat, Umar berkata, \u2018Wahai Ibnu Abbas lihatlah siapa yang telah menikamku.\u2019 Ibnu Abbas pergi sesaat kemudian kembali sambil berkata, \u2018Pembunuhmu adalah budak milik al-Mughirah\u2019. Umar bertanya, \u2018Budaknya yang lihai bertukang itu?\u2019 Ibnu Abbas menjawab, \u2018Ya.\u2019 Umar berkata, \u2018Semoga Allah membinasakannya, padahal aku telah menyuruhnya kepada kebaikan, Alhamdulillah yang telah menjadikan sebab kematianku di tangan orang yang tidak beragama Islam, engkau dan ayahmu (Abbas) menginginkan agar budak-budak kafir itu banyak tinggal di Madinah\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Pada waktu itu Abbas yang paling banyak memiliki budak, Abbas pernah berkata kepada Umar, \u201cJika engku mau budak-budak itu akan kami bunuh.\u201d Umar menjawab, \u201cEngkau salah, bagaimana membunuh mereka setelah mereka mulai berbicara dengan menggunakan bahasa kalian, shalat menghadap ke arah qiblat kalian dan melaksanakan haji sebagaimana kalian melaksanakannya?\u201d<\/p>\n<p>Umar segera dibawa ke rumahnya. Kami berangkat bersama-sama mengikutinya. Seolah-olah kaum muslimin tidak pernah mendapat musibah sebelumnya, ada yang berkomentar, \u201cLukanya tidak parah.\u201d Dan ada juga yang berkata, \u201cAku khawatir ia akan tewas.\u201d Setelah itu dibawakan kepadanya minuman\u00a0<em>nabidz<\/em>\u00a0dan ia meminumnya, tetapi minuman tersebut keluar kembali dari perutnya yang ditikam. Kemudian dibawakan kepadanya susu dan ia meminumnya, namun susu tersebut tetap keluar lagi dari bekas lukanya, maka yakinlah mereka bahwa Umar tidak tertolong lagi dan la pasti akan tewas, maka kami masuk menjenguknya, sementara orang-orang berdatangan mengucapkan pujian atas dirinya. Tiba-tiba datang seorang pemuda dan berkata, \u201cBergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan berita gembira dari Allah untukmu, engkau adalah sahabat Rasulullah, pendahulu Islam, engkau menjabat pemimpin dan engkau berlaku adil, kemudian engkau diberikan Allah syahadah (mati Syahid).\u201d Umar menjawab, \u201cAku berharap seluruh perkara yang engkau sebutkan tadi cukup untukku, tidak lebih ataupun kurang.\u201d Tarkala pemuda itu berbalik ternyata pakaiannya terjulur hingga menyentuh lantai. Umar memanggilnya dan berkata, \u201cWahai saudaraku, angkatlah pakaianmu sesungguhnya hal itu akan lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih menaikkan ketaqwaanmu kepada Rabbmu. Wahai Abdullah bin Umar lihatlah berapa hutangku.\u201d Mereka hitung dan ternyata jumlahnya lebih kurang sebanyak 86.000. Umar berkata, \u201cJika harta keluarga Umar cukup untuk melunasinya maka bayarlah dari harta mereka, jika belum juga lunas mintalah kepada Bani Adi bin Ka\u2019ab dan jika ternyata belum juga cukup maka mintalah pada kaum Quraisy dan jangan minta kepada selain mereka. Maka tunaikan hutang-hutangku, berangkatlah engkau sekarang ke rumah \u2018Aisyah -ummul mukminin- dan katakan, \u201cUmar menyampaikan salam kepadanya dan jangan kau katakan salam dari Amirul mukminin, sebab sejak hari ini aku tidak lagi menjadi Amirul mukminin, katakan kepadanya bahwa Umar bin al-Khaththab minta izin agar dapat dimakamkan di samping dua sahabatnya. Maka Abdullah bin Umar segera mengucapkan salam dan minta izin masuk kepada \u2018Aisyah, dan ternyata ia sedang duduk menangis. Abdullah bin Umar berkata, \u201cUmar bin al-Khaththab mengucapkan salam untukmu dan ia minta izin agar dapat dimakamkan di sisi kedua sahabatnya.\u201d \u2018Aisyah menjawab, \u201cSebenarnya aku menginginkan agar tempat tersebut menjadi tempatku kelak jika mati, namun hari ini aku harus mengalah untuk Umar.<\/p>\n<p>Ketika Abdullah bin Umar kembali, maka ada yang mengatakan, Lihatlah Abdullah bin Umar telah datang. Umar berkata, \u201cAngkatlah aku.\u201d Salah seorang menyandarkan Umar ke tubuh anaknya Abdullah bin Umar \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647\u0645\u0627.<\/p>\n<p>Umar bertanya kepadanya, \u201cApa berita yang engkau bawa?\u201d Dia menjawab, \u201cSebagaimana yang engkau inginkan wahai Amirul mukminin, \u2018Aisyah telah mengizinkan dirimu.\u201d (dimakamkan di sisi dua sahabatmu, pent.) Maka Umar berkata, \u201cAlhamdulillah, tidak ada yang lebih penting bagiku selain dari itu, jika aku wafat maka bawalah jenazahku ke sana dan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 katakan, \u2018Umar bin al-Khaththab minta izin untuk dapat masuk, jika ia memberikan izin maka bawalah aku masuk, tetapi jika ia menolak, maka bawalah jenazahku ke pemakaman kaum muslimin\u2019.\u201d Tiba-tiba datanglah Hafshah beserta rombongan wanita, ketika kami melihat ia masuk maka kami segera berdiri menghindar, Hafshah duduk di sisinya dan menangis beberapa saat, tak berapa lama datang rombongan lelaki minta izin untuk dapat menjenguk umar, maka segera Hafshah masuk ke dalam sambil mempersilahkan rombongan lelaki menjenguk Umar. Sementara kami masih mendengar isak tangisnya dari dalam.<\/p>\n<p>Orang-orang berkata, \u201cBerilah wasiat wahai amirul mukminin, pilihlah penggantimu!\u201d Umar berkata, \u201cAku tidak mendapati ada orang yang lebih berhak untuk memegang urusan ini (menjadi khalifah) selain dari enam orang yang Rasulullah \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 rela atas mereka ketika wafatnya.\u201d Umar menyebutkan nama mereka, Ali, Utsman, az-Zubair, Thalhah, Sa\u2019ad dan Abdurrahman. Beliau berkata, \u201cYang menjadi saksi kalian adalah Abdullah bin Umar, dan ia tidak berhak dipilih. Jika kelak yang terpilih Sa\u2019ad maka dia berhak untuk itu, jika tidak maka hendaklah kalian memintanya agar menunjuk siapa yang berhak di antara kalian, sebab aku tidak pernah mencopotnya disebabkan dia berkhianat ataupun kelemahannya. Aku wasiatkan kepada Khalifah setelahku agar memperhatikan kaum Muhajirin yang terdahulu keislamannya, hendaklah dijaga dan diperhatikan hak-hak maupun kehormatan mereka. Aku juga wasiatkan kepada penggantiku kelak\u00a0 agar memperhatikan kaum Anshar sebaik mungkin. Merekalah orang-orang yang telah menyiapkan kampung halaman beserta rumah mereka untuk menampung kaum Muhajirin dan orang-orang yang beriman. Hendaklah kebaikan mereka dihormati dan diterima dengan baik, dan kejelekan mereka hendaklah dimaafkan. Aku wasiatkan kepada penggantiku untuk memperhatikan seluruh penduduk kota sebab mereka adalah para penjaga Islam, pemasok harta dan pagar pelindung terhadap musuh. Janganlah diambil dari mereka kecuali kelebihan dari harta mereka dengan kerelaan hati mereka. Aku wasiatkan juga kepada penggantiku kelak agar memperhatikan dengan baik orang-orang Arab pedalaman, sebab mereka adalah asalnya bangsa Arab dan personil Islam. Hendaklah dipungut dari mereka zakat binatang ternak mereka dan disalurkan kepada orang-orang yang miskin dari mereka. Aku wasiatkan juga kepada penggantiku kelak agar menjaga seluruh ahli dzimmah. Hendaklah perjanjian maupun kesepakatan dengan mereka tetap dipelihara. Dan yang diperangi itu hendaklah orang-orang kafir selain mereka (selain ahli dzimmah). Janganlah mereka dibebani dengan hal yang tidak dapat mereka pikul.<\/p>\n<p>Ketika Umar wafat maka kami keluar membawa jenazahnya menuju rumah \u2018Aisyah, Abdullah bin Umar mengucapkan salam sambil berkata, \u201cUmar bin al-Khaththab minta izin agar dapat masuk.\u201d \u2018Aisyah menjawab, Bawalah ia masuk.\u201d Maka jenazah Umar dibawa masuk dan dikebumikan di tempat itu bersama kedua sahabatnya.41<\/p>\n<p><strong>*Umurnya Ketika Wafat<\/strong><\/p>\n<p>Masih diperselisihkan berapa usia Umar ketika ia wafat, dalam masalah ini terdapat sepuluh pendapat. Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan sembilan\u00a0 pendapat saja dengan memulai pendapat yang didahulukan oleh Ibnu Jarir dalam tarikhnya.<\/p>\n<p>Ibnu Jarir berkata, \u201cKami diberitahukan oleh Zaid bin Akhzam ia berkata, Kami diberitahukan oleh Abu Qutaibah dari Jarir bin Hazim dari Ayyub dari Nafi\u2019 dari Abdullah bin Umar \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647\u0645\u0627 ia berkata, \u201cUmar terbunuh ketika berusia 55 tahun, ad-Darawardi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Umar, dari Nafi\u2019 dari Abdullah bin Umar. Demikian pula Abdur Razzaq mengatakan yang sama dari riwayat Ibnu Juraij dari az-Zuhri, adapun Ahmad meriwayatkannya dari Hasyim dari Ali bin Zaid dari Salim bin Abdullah bin Umar.\u00a042<\/p>\n<p>Setelah itu ia menyebutkan pendapat lain, \u201cDiriwayatkan dari Amir as-Sya\u2019bi, dia berpendapat, \u201cKetika Umar wafat ia berusia enam puluh tiga tahun.\u201d43\u00a0Menurutku, inilah pendapat yang masyhur. Ia juga menyebutkan pendapat al-Madaini, \u201cUmar wafat ketika berusia lima puluh tujuh tahun.\u201d44<\/p>\n<p>_______________________________________________________________________________________________<\/p>\n<p><strong>31\u00a0Ibnu Sa\u2019ad juga megeluarkan semakna dengan ini dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 3\/335.<\/strong><\/p>\n<p><strong>32\u00a0Diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahihnya, kitab Fadhail Madinah, bab Karahiyatu an-Nabi an Tu\u2019ra al-Madinah, (4\/100 Fathul Bari).<\/strong><\/p>\n<p><strong>33\u00a0Ath-Thabari berkata 4\/190, \u201cDia beragama Nasrani,\u201d dalam jilid 4\/190 dia berkata, \u201cAbu Luluah berasal dari Nahawand, setelah itu dia ditawan orang Romawi, setelah itu dia ditawan oleh tentara kaum muslimin.<\/strong><\/p>\n<p><strong>34\u00a0As-Sifaq yaitu daerah sekitar pusar berupa kulit yang tipis yang terletak di bawah kulit luar dan di atas daging. (Lisanul Arab 10\/203).<\/strong><\/p>\n<p><strong>35\u00a0Dalam Thabaqat Ibnu Sa\u2019ad, 3\/337 dari riwayat Hushain dari Amr bin Maimun bahwa yang terbunuh sembilan orang, dan mungkin itu adalah kekeliruan, sebab yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari sebagaimana kelak akan diterangkan hanya tujuh orang yang tewas, dan riwayat ini dari Hushain dari Amr dari Maimun.<\/strong><\/p>\n<p><strong>36\u00a0Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, 7\/ 63, \u201cDi dalam Zail al-Isti\u2019ab karya Ibn Fathun dari jalan Sa\u2019id bin Yahya al-Umawi dengan sanadnya dia berkata, \u201cKetika melihat tragedi ini maka salah seorang dari Muhajirin yang bernama Hatthan at-Tamimi al-Yarbu\u2019i melemparkan mantelnya.\u201d Dan dikatakan bahwa Riwayat ini yang paling shahih dibandingkan riwayat Ibnu Sa\u2019ad yang memiliki sanad dhaif dan munqati\u2019 yang menyatakan bahwa lelaki itu adalah Abdullah bin \u2018Auf, yang kemudian memenggal kepalanya, dia berkata, \u201cJika jalan ini benar maka bisa jadi kedua orang ini sama-sama bersekutu dalam membunuhnya.<\/strong><\/p>\n<p><strong>37\u00a0Ath-Thabaqat al-Kubra, 3\/ 365, Tarikh ath-Thabari 4\/193.<\/strong><\/p>\n<p><strong>38\u00a0Tarikh ath-Thabari 4\/194.<\/strong><\/p>\n<p><strong>39\u00a0Ibid<\/strong><\/p>\n<p><strong>40\u00a0Tulisan ini adalah tambahan dari naskah aslinya, sengaja kita sebutkan karena begitu pentingnya isi dalamnya dan sekaligus bersumber dari jalan yang shahih.<\/strong><\/p>\n<p><strong>41\u00a0Kitab Fadhail Shahabah, Bab Qissatul Bai\u2019ah, (7\/59 dari Fathul Bari).<\/strong><\/p>\n<p><strong>42\u00a0Tarikh ath- Thabari 4\/197<\/strong><\/p>\n<p><strong>43\u00a0Ibid 4\/198, Ibnu Sa\u2019ad menyebutkan hal yang semakna dalam Thabaqat, 3\/365 dari dua jalan Dari Abu Ishaq as-Sabi\u2019iy dan Amir Ibnu Sa\u2019ad dari Jarir bahwa dia pernah mendengar Muawiyah berkata, \u201cUmar wafat ketika berusia enam puluh tiga tahun.\u201d Al-Waqidi berkata, \u201cHadits ini tidak kami ketahui pernah terdengar di Madinah, pendapat yang paling kuat menurut kami bahwa dia wafat ketika berusia enam puluh tahun.\u201d Menurutku, Isnad Ibnu Sa\u2019ad lemah di dalamnya terdapat Hariz Maula Muawiyah, berkata al-Hafizh mengenai diri perawi ini dalam at-Taqrib no.1195, \u201cDia majhul (tidak di kenal) dari thabaqah ke tiga.<\/strong><\/p>\n<p><strong>44\u00a0Lihat Tarikh ath-Thabari 4\/ 198, kukatakan, \u201cPendapat al-Madaini sesuai dengan apa pendapat pengarang bahwa umurnya ketika masuk Islam dua puluh tujuh tahun, tepatnya enam tahun setelah Rasul di utus.( 27+7+23=57).<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Disalin dari :\u062a\u0631\u062a\u064a\u0628 \u0648\u062a\u0647\u0630\u064a\u0628 \u0643\u062a\u0627\u0628 \u0627\u0644\u0628\u062f\u0627\u064a\u0629 \u0648\u0627\u0644\u0646\u0647\u0627\u064a\u0629<br \/>\n<\/strong><strong>Judul Asli: Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah<br \/>\n<\/strong><strong>Penulis: al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir<br \/>\n<\/strong><strong>Pennyusun: Dr.Muhammad bin Shamil as-Sulami<br \/>\n<\/strong><strong>Penerbit: Dar al-Wathan, Riyadh KSA. Cet.I (1422 H.\/2002 M)<br \/>\n<\/strong><strong>Edisi Indonesia: Al-Bidayah wan-Nihayah Masa Khulafa\u2019ur Rasyidin<br \/>\n<\/strong><strong>Penerjemah: Abu Ihsan al-AtsariMuraja\u2019ah: Ahmad Amin Sjihab, LcPenerbit: Darul Haq, Cetakan I (Pertama) Dzulhijjah 1424 H\/ Pebruari 2004 M.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ringkasnya, ketika Umar selesai melaksanakan ibadah haji pada tahun 23 H beliau sempat berdoa kepada Allah di Abthah, mengadu kepada Allah tentang usianya yang telah senja, kekuatannya telah melemah, sementara rakyatnya tersebar luas dan la takut tidak dapat menjalankan tugas dengan sempurna. Ia berdoa kepada Allah agar Allah mewafatkannya31\u00a0dan berdoa agar Allah memberikan syahadah (mati &hellip; <\/p>\n<p><a class=\"more-link btn\" href=\"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/kisah-terbunuhnya-umar-bin-khattab-penulis-al-imam-al-hafizh-ibnu-katsir\/\">Continue reading<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[364,363],"class_list":["post-1273","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ilmu-akhirat","tag-kisah-terbunuhnya-umar-bin-khattab","tag-umar-bin-khattab","item-wrap"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1273","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1273"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1273\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3794,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1273\/revisions\/3794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1273"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1273"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.berilmu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1273"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}