Utsman bin Affan ra. telah menegaskan agar semua orang yang ada di dalam rumah beliau agar kembali ke rumah mereka masing-masing maka mereka pun pergi. Di saat tidak ada lagi orang yang bersama beliau kecuali keluarganya, para pemberontak masuk ke dalam rumah melalui pintu dan jendela. Lalu Utsman memulai mengerjakan shalat dan membaca surat Thaha dengan bacaan yang cepat sehingga beliau menyelesaikan bacaannya. Semen-tara orang-orang sedang berusaha masuk sehingga pintu dan atap ruangan tempat beliau terbakar. Mereka khawatir jika api menjalar ke Baitul Mai. Setelah Utsman menyelesaikan shalatnya, beliau duduk sambil memegang mushaf lalu membaca al-Qur’an pada ayat, “(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah SWT. dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘ Sesungguhnya manusia telah mengnmpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takntlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘ Cukuplah Allah SWT. menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (Ali Imran: 173).
Orang yang pertama masuk adalah seorang lelaki yang bernama al-Mautul Aswad lalu ia mencekik Utsman bin Affan ra. dengan sekuat-kuatnya sehingga beliau jatuh pingsan dan nafas beliau tersengal-sengal di dada. Lalu ia tinggalkan karena mengira Utsman telah terbunuh. Kemudian masuklah Ibnu Abu Bakar lalu ia memegang janggutnya dan tiba-tiba ia menyesal dan keluar. Lalu masuk yang lain dan menebasnya dengan pedang. Dikatakan bahwa orang tersebut memenggalnya sampai putus dan yang lain mengatakan bahwa memenggalnya namun tidak putus.
Hanya Utsman berkata, “Demi Allah SWT. inilah tangan pertama yang membunuhnya.” Kemudian datang yang lain sambil menghunus pedang lalu dihadang oleh Nailah binti al-Farafishah dengan pedang lantas pedang tersebut di-rebut oleh lelaki tersebut sehingga jemari Nailah putus. Kemudian lelaki tersebut mendekati Utsman lalu menikamkan perut beliau. Lelaki tersebut bernama Saudan bin Humran. Lalu salah seorang pembantu Utsman datang dan membunuh Saudan dan pembantu tersebut dibunuh orang lain yang bernama Qutairah.
Kemudian para pemberontak tersebut mengalihkan perhatian kepada harta yang
ada di dalam rumah tersebut. seorang di antara mereka berteriak, “Jika darahnya halal berarti hartanya juga halal.” Maka yang lain mulai tertarik dengan hal tersebut, lalu mereka kunci ruangan Utsman itu beserta korban yang ada di dalamnya. Ketika mereka masuk ke ruang tengah, Qutairah di cegat oleh pembantu Utsman lalu membunuhnya dan yang lain menjarah apa saja yang mereka temui sampai-sampai seorang yang bernama Katsum at-Tujaiby menjarah baju-baju Nailah namun pembantu Utsman dengan sigap membunuhnya dan pembantu tersebut pun ikut tewas.
Kemudian seseorang berteriak, “Pergilah ke Baitul Mai jangan sampai kalian ketinggalan.” Hal tersebut didengar oleh para penjaga Baitul Mal lalu mereka berkata, “Ayo menghindar! Mereka sekarang sedang haus harta dunia.” Maka para pemberontak tersebut menyerbu dan orang-orang Khawarij menjarah harta Baitul Ma yang jumlahnya sangat banyak842
Khalifah bin Khayyath berkata, “Ibnu Aliyah telah mengatakan kepada kami, Ibnu ‘Aun telah mangabarkan kepada kami dari al-Hasan, Watstsab843 telah mangabarkan kepadaku, ‘Aku diutus Utsman menemui mereka. Lalu aku membawa seorang yang bernama al-Asytar menghadap kepada beliau. Beliau berkata, ‘Apa yang diinginkan orang-orang?’ la katakan, ‘Ada tiga hal yang harus engkau pilih.’ Beliau berkata, ‘Coba sebutkan.’ la katakan, ‘Mereka memberimu pilihan, anda menyerahkan kekuasaan kepada mereka lalu anda katakan, ‘Silahkan pilih siapa yang kalian inginkan,’ atau engkau bunuh dirimu sendiri, jika anda enggan mereka akan membunuhmu’. Utsman berkata, ‘Apakah Aku harus memilih salah satu dari yang tiga?’ la menjawab, ‘Ya, anda harus memilih salah satu dari yang tiga!’
Utsman berkata,’ Adapun keinginan mereka agar aku mengundurkan diri maka
aku tidak akan melepaskan pakaian yang telah dipakaikan Allah SWT. Adapun jika mereka ingin membunuhku, demi Allah SWT. jika kalian membunuhku maka kalian tidak akan berkasih sayang lagi, tidak akan shalat berjamaah lagi dan kalian semua tidak akan memerangi musuh selamanya’.”844
Watstsab berkata, “Maka datanglah seorang lelaki berperawakan pendek seolah-olah dia seperri srigala, ia mengintip dari pintu lalu ia kembali. Kemu-dian datanglah Muhammad bin Abu Bakar beserta tiga belas orang temannya, lalu ia memegang janggut Utsman dan aku mendengar suara gemeretak gigi gerahamnya seraya berkata, ‘Mu’awiyah tidak lagi berfaedah untukmu, Ibnu ‘Amir tidak lagi berfaedah untukmu dan tidak lagi berfaedah suratmu.’ Utsman berkata, ‘Wahai anak saudaraku lepaskan janggutku!’.” Watstsab berkata, “Aku lihat ia memberikan isyarat dengan matanya kepada seseorang, lalu orang tersebut bangkit dengan sebuah anak panah lalu memukul-kannya ke kepala Utsman. Aku katakan, “Perlakukan dia dengan baik!” kemudian mereka mengeroyok Utsman hingga tewas.845
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu ‘Aun bahwa Kinanah bin Bisyr memukul rusuk dan ubun-ubun Utsman dengan tiang besi sehingga beliau tersungkur di sebelahnya. Lalu Saudan bin Humran al-Murady memberikan pukulan lagi dan beliau pun terbunuh. Adapun Amr bin Hamiq melompat ke dada Utsman dan pada saat itu beliau menghembuskan nafas yang terkhir lalu ia menikam beliau Sembilan kali tikaman seraya berkata, “Adapun tiga tikaman aku lakukan karena Allah SWT. dan enam tikaman aku lakukan karena dendam yang ada di dadaku.”846
Dari beberapa jalur jelaslah bahwa percikan darah beliau yang pertama berada
pada Firman Allah SWT. “Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Malm Mengetahuii.”847 (Al-Baqarah: 137).
Diriwayatkan bahwa Utsman membaca sampai pada ayat ini ketika para pemberontak masuk ke rumah beliau. Isi berita ini tidak terlalu jauh, karena beliau meletakkan mushaf untuk membacanya.
Disalin dari :ترتيب وتهذيب كتاب البداية والنهاية
Judul Asli: Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah
Penulis: al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir
Pennyusun: Dr.Muhammad bin Shamil as-Sulami
Penerbit: Dar al-Wathan, Riyadh KSA. Cet.I (1422 H./2002 M)
Edisi Indonesia: Al-Bidayah wan-Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin
Penerjemah: Abu Ihsan al-AtsariMuraja’ah: Ahmad Amin Sjihab, LcPenerbit: Darul Haq, Cetakan I (Pertama) Dzulhijjah 1424 H/ Pebruari 2004 M.
